Barcelona, VIVA – Bintang muda Lamine Yamal kembali jadi sorotan. Bukan hanya karena kontribusinya di lapangan, tetapi juga reaksinya saat ditarik keluar jelang akhir laga FC Barcelona kontra Levante UD.
Dalam pertandingan yang sudah hampir dimenangkan Barcelona, Yamal terlihat kecewa ketika nomor punggungnya diangkat pada menit ke-88. Ia berjalan ke bangku cadangan dengan ekspresi frustrasi, meski timnya sudah unggul nyaman. Momen singkat itu langsung memicu perbincangan: apakah wonderkid 18 tahun ini mulai menunjukkan sikap bintang besar?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun pelatih Hansi Flick justru melihatnya dari sudut pandang berbeda. Bagi Flick, reaksi tersebut bukan masalah, melainkan tanda mentalitas kompetitif yang sehat.
“Reaksi apa? Dia marah? Itu normal,” kata Flick.
"Yang paling penting bagi saya adalah tim menang, dan kami juga punya pemain lain yang layak mendapat kesempatan bermain, seperti Roony Bardghji,” sambungnya.
Yamal sendiri sebelumnya sudah berperan penting dalam kemenangan tersebut. Ia menciptakan assist untuk Fermin Lopez pada gol ketiga Barcelona di menit ke-81, yang praktis memastikan hasil pertandingan. Dengan tugasnya selesai, staf pelatih memutuskan memberinya waktu istirahat singkat.
Meski demikian, Yamal tampak belum puas. Ia masih ingin berada di lapangan hingga peluit akhir, sebuah sikap yang justru disukai sang pelatih.
“Saya suka sikapnya ketika dia bermain. Kalian saja yang membesar-besarkan semua yang dilakukan Lamine. Kalau dia kesal karena diganti, itu hal yang manusiawi,” ujar Flick.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di internal klub, ambisi Yamal untuk bermain setiap menit justru dianggap sinyal positif. Barcelona menyadari mereka memiliki pemain dengan mental pemenang yang haus kontribusi. Dalam situasi unggul jauh, pergantian di menit akhir lebih dilihat sebagai manajemen beban fisik, bukan hukuman atau kritik terhadap performanya.
Yamal memang sedang berada dalam fase karier yang sensitif. Di usia yang sangat muda, ia sudah memikul ekspektasi besar sebagai calon ikon masa depan klub bahkan kandidat peraih Ballon d’Or di masa depan. Sorotan berlebih terhadap sikap atau gesturnya di lapangan kerap memicu narasi berlebihan, termasuk tudingan mulai terjebak hype.
Halaman Selanjutnya
Namun respons Flick menunjukkan pesan yang jelas, emosi kompetitif pemain muda bukanlah masalah selama tetap terkendali dan berorientasi tim. Dalam sepak bola level elite, keinginan untuk terus bermain sering menjadi ciri pemain besar.

2 weeks ago
4












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)