loading...
Mubasyier Fatah. Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Entrepreneur Bidang Teknologi Informasi dan Praktisi Keamanan Siber. Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Mubasyier Fatah
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Entrepreneur Bidang Teknologi Informasi dan Praktisi Keamanan Siber
Di sebuah ruang kelas di pelosok Indonesia, seorang guru kini tidak lagi hanya mengajar dengan papan tulis dan buku paket. Ia mulai menggunakan video pembelajaran dari internet, memberi tugas melalui aplikasi digital, bahkan berkomunikasi dengan murid lewat telepon genggam.
Sementara di kota-kota besar, kecerdasan buatan mulai membantu siswa menyusun tugas, mencari referensi, hingga menerjemahkan bahasa asing dalam hitungan detik. Dunia pendidikan berubah begitu cepat, secepat perubahan ekonomi digital yang kini menguasai hampir seluruh sendi kehidupan manusia.
Perubahan itu menghadirkan harapan sekaligus kecemasan. Di satu sisi, ekonomi digital membuka peluang besar bagi pendidikan untuk menjadi lebih inklusif, modern, dan efisien. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan ancaman baru: ketimpangan akses teknologi, menurunnya kualitas pembelajaran, hingga lahirnya generasi yang sangat dekat dengan teknologi tetapi semakin jauh dari kedalaman berpikir.
Pertanyaannya kemudian, apakah ekonomi digital benar-benar menjadi jalan kemajuan pendidikan Indonesia, atau justru menciptakan masalah baru yang belum sepenuhnya kita sadari?
Ketika Ekonomi Digital Mengubah Cara Belajar
Ekonomi digital bukan sekadar soal perdagangan elektronik atau media sosial. Ia adalah perubahan besar dalam cara manusia bekerja, berinteraksi, dan memperoleh pengetahuan. Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi digital telah mengubah model pendidikan secara drastis.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah melampaui 220 juta orang pada 2025. Sebagian besar berasal dari kelompok usia produktif dan pelajar. Sementara itu, laporan Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai lebih dari 130 miliar dolar Amerika dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Perubahan ini otomatis memengaruhi dunia pendidikan. Proses belajar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ruang kelas fisik. Pengetahuan kini dapat diakses dari mana saja. Mahasiswa dapat mengikuti kuliah luar negeri secara daring, siswa sekolah bisa belajar melalui video interaktif, dan guru memperoleh akses ribuan sumber pembelajaran digital.
Positifnya, kondisi ini sebenarnya membuka peluang besar bagi demokratisasi pendidikan. Anak-anak di daerah terpencil kini memiliki kesempatan mengakses pengetahuan yang sebelumnya hanya tersedia di kota besar. Teknologi memperpendek jarak dan memperluas akses pendidikan.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah akses yang luas otomatis menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik?
Ketimpangan Digital dan Ancaman Kesenjangan Baru
Realitasnya, transformasi digital tidak berlangsung secara merata. Di banyak daerah, keterbatasan jaringan internet, perangkat teknologi, dan kemampuan digital masih menjadi hambatan besar.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat akses internet rumah tangga di wilayah perkotaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Di sejumlah wilayah timur Indonesia, kualitas jaringan internet bahkan masih menjadi persoalan mendasar. Akibatnya, ekonomi digital justru berpotensi menciptakan bentuk ketimpangan baru: kesenjangan digital.
Anak-anak dari keluarga mampu dapat menikmati laptop, internet cepat, dan berbagai platform pembelajaran modern. Sementara itu, banyak siswa lain masih harus berbagi telepon genggam dengan anggota keluarga atau mencari sinyal di tempat tertentu hanya untuk mengikuti pembelajaran daring.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)