Jumat, 31 Juli 2026 - 12:30 WIB
VIVA –Ribuan migram terlihat memasuki Ceuta, wilayah kecil milik Spanyol yang berada di Afrika Utara. Berdasarkan foto dan video yang beredar terlihat kerumunan orang yang sebagian besar merupakan warga Maroko berjalan melewati pemecah ombak di sebuha pantai perkotaan dekat pos pemeriksaan perbatasan dengan Maroko. Mereka kemudian memasuki jalan-jalan di wilayah Cueta.
Meningkatnya jumlah orang yang menyeberang terjadi setelah sehari sebelumnya terjadi lonjakan migran yang berusaha mencapai wilayah kantong tersebut, sebagian besar dengan berenang. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan begitu banyak orang mencoba masuk ke Ceuta secara bersamaan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menyusul dengan insiden ini pemerintah Spanyol akan mengirim Angkatan Bersenjata untuk membantu Garda Sipil yang bertugas di Ceuta. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, juga dijadwalkan mengunjungi wilayah itu pada Jumat.
Dengan adanya insiden ini, berikut sejumlah hal yang perlu diketahui mengenai Ceuta dan situasi yang terjadi seperti dikutip dari laman AP News, Jumat 31 Juli 2026.
Kota Otonom Spanyol di Benua Afrika
Ceuta dan Melilla, wilayah Spanyol yang lebih besar dan terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur Ceuta, berada di pesisir utara Laut Mediterania, tepat di ujung Benua Afrika. Keduanya merupakan kota otonom milik Spanyol sekaligus menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika.
Ceuta telah berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak tahun 1580. Kota ini dihuni oleh masyarakat yang beragam, terdiri atas pemeluk agama Kristen dan Islam, serta warga Spanyol dan Maroko, termasuk para pekerja lintas batas yang sehari-hari beraktivitas di sana. Selama ini, mereka hidup berdampingan dengan relatif harmonis.
Namun, Maroko tidak pernah secara resmi mengakui Ceuta dan Melilla sebagai bagian dari wilayah Spanyol. Pemerintah Maroko kerap menyebut kedua wilayah tersebut sebagai daerah yang masih diduduki.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Titik Sensitif dalam Hubungan Spanyol dan Maroko
Dengan jumlah penduduk sekitar 85.000 jiwa, Ceuta beberapa kali menjadi pusat ketegangan diplomatik antara Madrid dan Rabat. Pada Mei 2021, pemerintah Maroko melonggarkan pengawasan di perbatasan sehingga sekitar 8.000 orang dari Maroko dan negara-negara Afrika Sub-Sahara dapat memasuki Ceuta hanya dalam waktu dua hari.
Halaman Selanjutnya
Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai bentuk balasan atas keputusan Spanyol yang mengizinkan seorang pemimpin gerakan kemerdekaan dari wilayah Sahara Barat menjalani perawatan medis di sebuah rumah sakit di Spanyol. Ketegangan antara kedua negara akhirnya mereda, dan kondisi perbatasan kembali normal setelah Perdana Menteri Spanyol mengubah sikap lama negaranya terkait Sahara Barat. Pada tahun berikutnya, ia juga mengadakan pertemuan dengan Raja Maroko, Mohammed VI.

6 days ago
3


















