Fenomena Baru di Dunia Kerja, Karyawan yang Takut Diganti AI Bisa Mengalami Gangguan Mental

2 weeks ago 6

Kamis, 28 Mei 2026 - 19:09 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata mulai memunculkan dampak baru terhadap kesehatan mental pekerja. Sejumlah peneliti dari University of Florida (UF), Amerika Serikat, kini memperkenalkan istilah baru bernama Artificial Intelligence Replacement Dysfunction (AIRD). 

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tekanan psikologis yang muncul akibat ketakutan pekerja kehilangan pekerjaan karena digantikan AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal medis Cureus Journal of Medical Science. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menjelaskan gejala umum, metode skrining, hingga pendekatan penanganan yang dapat digunakan tenaga kesehatan untuk membantu pasien yang mengalami tekanan akibat ancaman AI di dunia kerja.

Seiring perkembangan AI yang semakin cepat masuk ke berbagai sektor industri, banyak pekerja mulai merasa cemas terhadap masa depan karier mereka. Mahasiswi psikologi University of Florida sekaligus peneliti, Stephanie McNamara, mengatakan ide penelitian ini muncul setelah dirinya melihat peningkatan pemutusan hubungan kerja atau PHK yang berkaitan dengan AI.

“Maret lalu, saya mulai melihat peningkatan PHK akibat AI, dan itu membuat saya berpikir tentang dampak kesehatan mental yang akan ditimbulkannya bagi masyarakat,” kata McNamara, sebagaimana dikutip dari UF News, Kamis, 28 Mei 2026.

“Saya melihat belum ada yang membahas fenomena ini, jadi saya mengambil inisiatif untuk mengusulkan sebuah gangguan klinis berdasarkan kondisi tersebut,” lanjutnya.

Penelitian menjelaskan bahwa perubahan besar akibat AI membuat semakin banyak pekerja merasa terancam menjadi tidak relevan di tempat kerja. Orang yang mengalami AIRD disebut dapat mengalami berbagai perubahan emosional maupun kognitif, seperti kecemasan berlebihan, insomnia, paranoia, penolakan terhadap keberadaan AI, kehilangan identitas diri, merasa tidak berharga, frustrasi, hingga putus asa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena setiap individu memiliki respons yang berbeda, gejala AIRD juga dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Peneliti menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena gejalanya bisa mirip dengan gangguan mental lain. 

Sebab itu, mereka mendorong adanya metode pemeriksaan khusus agar tenaga medis dapat membedakan AIRD dengan kondisi psikologis lainnya. Meski AIRD belum masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), tenaga kesehatan disebut tetap dapat melakukan skrining melalui pertanyaan tambahan dalam pemeriksaan psikologis standar.

Halaman Selanjutnya

Profesor psikiatri klinis University of Florida, Joseph Thornton, mengatakan dampak AI terhadap kesehatan mental pekerja berpotensi menjadi masalah besar yang belum banyak disadari publik. “Perpindahan pekerjaan akibat AI adalah bencana yang tidak terlihat,” ujar Thornton.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |