Gaji Tukang Kini Bisa Kalahkan Karyawan Kantoran, Ada yang Tembus Rp1,8 Miliar!

3 weeks ago 7

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:03 WIB

Jakarta, VIVA – Pandangan bahwa gelar kuliah menjadi jalan utama menuju karier mapan mulai berubah. Di tengah perkembangan teknologi dan boomingnya kecerdasan buatan alias AI, banyak pekerjaan teknis justru mengalami lonjakan permintaan dan kenaikan gaji signifikan.

Profesi seperti mekanik, teknisi robotik, hingga teknisi pendingin ruangan kini semakin diburu perusahaan. Bahkan, di sejumlah negara maju, penghasilan pekerja skilled trade atau tenaga kerja terampil mulai menyaingi pegawai kantoran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini diungkap perusahaan rekrutmen global Randstad melalui data terbarunya mengenai tren pasar tenaga kerja. CEO Randstad, Sander van’t Noordende, menilai pola karier konvensional mulai bergeser.

“Saya akan mengatakan bahwa masa-masa kuliah lalu bekerja di kantor demi mendapatkan karier yang menguntungkan sudah berakhir,” kata Noordende, sebagaimana dikutip dari CNBC, Jum'at, 22 Mei 2026.

“Anda harus lebih cerdas dari itu. Saya pikir teknologi, segala jenis teknologi, masih menjadi jalur karier yang bagus,” sambungnya. 

Ia mengatakan, pekerjaan berbasis keterampilan teknis kini berkembang jauh lebih cepat dibanding beberapa pekerjaan administratif tradisional. “Pekerjaan skilled trade berkembang sangat pesat. Saya akan mengatakan Anda bisa memiliki karier bagus dan menghasilkan uang yang baik di bidang tersebut. Itu jelas merupakan jalur karier,” lanjutnya.

Data Randstad menunjukkan rata-rata gaji pekerja skilled trade di Amerika Serikat naik hingga 30 persen sejak 2022. Kenaikan juga terjadi di Belanda sebesar 21 persen, Jerman 18 persen, dan Inggris 9 persen.

Di Belanda, mekanik kini bisa memperoleh rata-rata US$79 ribu atau sekitar Rp1,38 miliar per tahun. Sementara di Jerman, pendapatan mekanik mencapai US$76.600 atau setara Rp1,34 miliar per tahun.

Tak hanya itu, pekerja di sektor konstruksi dan perumahan di Inggris juga mencatat rata-rata penghasilan lebih dari US$78.500 atau sekitar Rp1,37 miliar per tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meningkatnya kebutuhan pekerja teknis salah satunya dipicu pembangunan pusat data atau data center yang menopang industri AI global. Fasilitas ini membutuhkan banyak tenaga kerja fisik mulai dari teknisi listrik, pendingin ruangan, otomasi industri, hingga robotika.

Noordende menilai perkembangan AI justru memperlihatkan bahwa transformasi digital tetap membutuhkan banyak tenaga manusia di lapangan. “Perdebatan mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja sering kali hanya fokus pada apakah model generatif akan menggantikan pekerjaan kantoran. Namun kenyataan penting justru terabaikan, AI tidak bisa membangun pusat datanya sendiri.”

Halaman Selanjutnya

Perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diketahui menyiapkan belanja modal gabungan hampir US$700 miliar atau sekitar Rp12.250 triliun tahun ini untuk memperluas infrastruktur data center mereka.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |