Jakarta, VIVA – Isu kesehatan kembali mencuat terkait penggunaan galon guna ulang berusia lama atau yang kerap disebut “Ganula”. Di tengah tingginya konsumsi air minum dalam kemasan di Indonesia, temuan terbaru menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan serius yang selama ini kurang disadari masyarakat.
Berdasarkan laporan pengaduan konsumen, sebanyak 92% pengguna air minum dalam kemasan galon mengeluhkan masih beredarnya galon guna ulang yang sudah berumur tua.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi fisik galon pun kerap menjadi sorotan, mulai dari tampilan kusam, kotor, berlumut, hingga retak. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kualitas air yang dikonsumsi sehari-hari.
"Ganula” paling tua yang dilaporkan konsumen, menurut David, diproduksi pada 2015 atau berusia 11 tahun. Selain mengeluhkan masa pakai galon guna ulang tua, konsumen juga mempersoalkan kerusakan fisik galon, seperti kusam, kotor, berlumut, dan retak.
“Intinya, semakin tua usia galon, semakin beragam jenis keluhannya,” ujar Ketua KKI, David Tobing dalam Press Conference “Pemaparan Tiga Tahun Pemantauan KKI terhadap Risiko Galon Guna Ulang Lanjut Usia (Ganula)” di Habitate, Jakarta, Kamis 30 April 2026.
![]()
Dari sisi kesehatan, penggunaan galon lama berpotensi meningkatkan paparan zat kimia berbahaya, terutama Bisphenol A (BPA). Zat ini lazim digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat, bahan utama galon guna ulang. Seiring waktu dan frekuensi penggunaan, struktur plastik dapat mengalami degradasi, sehingga memicu pelepasan BPA ke dalam air minum.
David menjelaskan, pakar polimer dari Universitas Indonesia merekomendasikan masa pakai galon guna ulang selama 1 tahun atau 40 kali siklus guna ulang. Ini karena lebih dari itu, galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat berisiko tinggi melepaskan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum, yang bisa menyebabkan berbagai persoalan kesehatan, seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan reproduksi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Paparan BPA dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan serius. Selain meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes, BPA juga dapat mengganggu sistem hormon (endokrin), yang berpotensi memicu masalah kesuburan hingga gangguan perkembangan pada anak.
Berikut adalah rincian efek BPA pada kesehatan:
Halaman Selanjutnya
1. Gangguan Hormon & Reproduksi

1 hour ago
2



























