VIVA – Vietnam sukses mempertahankan gelar juara ASEAN Championship 2026. Namun, pesta juara Golden Star Warriors justru dibayangi sejumlah kejadian kontroversial.
Vietnam memastikan trofi setelah bermain imbang 2-2 melawan Thailand pada leg kedua final di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Rabu 26 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hasil tersebut membuat Vietnam keluar sebagai juara dengan kemenangan agregat 4-2 atas Thailand.
Meski demikian, sejumlah potongan video dari pertandingan final beredar luas di media sosial. Beberapa momen pertandingan kemudian memicu perdebatan dan spekulasi di kalangan pencinta sepak bola Asia Tenggara.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kegagalan penalti pemain Thailand, Kakana Khamyok, yang mengeksekusi bola terlalu tinggi hingga melambung di atas mistar gawang.
Selain itu, perhatian publik tertuju pada dua gol bunuh diri yang terjadi dalam pertandingan tersebut. Pada babak kedua, Chatchai Bootprom mencetak gol bunuh diri yang membuat Vietnam kembali menjaga keunggulan agregat.
Kemudian pada masa injury time, Wanchai Jarunongkran juga melakukan gol bunuh diri ketika berusaha menghalau bola.
Dua momen tersebut lantas menjadi bahan perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet bahkan mempertanyakan jalannya pertandingan final.
Namun, hingga kini belum ada bukti terverifikasi yang menunjukkan pertandingan tersebut diatur atau hasilnya direkayasa.
Potongan video dan momen yang dianggap janggal tidak bisa menjadi bukti tunggal untuk menyimpulkan adanya praktik match fixing. Catatan resmi pertandingan juga mencatat dua gol tersebut sebagai gol bunuh diri yang terjadi dalam situasi permainan.
Kredibilitas ASEAN Championship Jadi Sorotan
Terlepas dari spekulasi di final, perhatian terhadap integritas ASEAN Championship 2026 memang sudah muncul sebelum pertandingan puncak.
Pengamat sepak bola Akmal Marhali sebelumnya meminta AFF melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas dan konsistensi perangkat pertandingan.
Salah satu yang disoroti adalah duel Timnas Indonesia kontra Singapura pada 7 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam pertandingan tersebut, muncul perdebatan mengenai keputusan wasit setelah kiper Singapura menangkap bola yang sebelumnya mendapat umpan dari pemainnya sendiri.
Akmal menilai keputusan tersebut perlu dievaluasi apabila sentuhan yang terjadi memang masuk kategori deliberate back-pass. Dalam situasi tersebut, Indonesia seharusnya berpeluang mendapatkan tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti.
Halaman Selanjutnya
“Meski keputusan wasit tetap merupakan bagian dari penilaian teknis pertandingan, kontroversi itu memperkuat tuntutan agar AFF mengevaluasi kualitas dan konsistensi perangkat pertandingan,” ujar Akmal Marhali.

11 hours ago
1
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

