Jakarta, VIVA – Tokoh NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur menilai nama-nama besar mulai bermunculan menjelang Muktamar ke-35 NU.
Tak hanya itu, ia mengatakan bahwa silaturahmi politik pun sudah mulai terlihat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Sebagian bergerak terang-terangan, sebagian lain masih bergerak dalam ruang-ruang yang sunyi. Semua tampak biasa saja bagi organisasi sebesar NU. Muktamar memang selalu menghadirkan dinamika," kata Gus Lilur dalam keterangannya, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia pun menilai ada sesuatu yang dipengaruhi oleh tokoh besar. Ia menegaskan bahwa NU merupakan organisasi yang berasal dari para ulama dan pesantren.
"Sebagai warga NU, saya merasa cara berpikir seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyakitkan secara historis. Sebab NU bukan organisasi yang lahir dari rahim kekuasaan negara. Justru negara ini berdiri karena jasa para ulama NU," katanya.
Maka itu, ia menilai calon pemimpin NU tak pantas jika harus mendapat restu terlebih dahulu dari penguasa negara. Sebab, menurutnya para ulama merupakan sumber moral bangsa.
"Di situ ada adab. Ada kesadaran sejarah. Ada penghormatan bahwa para ulama bukan subordinasi kekuasaan, melainkan sumber moral bangsa," ujar dia.
Ia menegaskan NU sejak awal dekat dengan rakyat, dekat dengan negara, tetapi tidak tunduk menjadi alat negara.
Namun, para ulama NU dinilai tak menjadikan perjuangan sebagai alat untuk menguasai negara.
"Mereka tidak menjadikan jasa perjuangan sebagai alat untuk menguasai negara. Banyak yang kembali ke pesantren. Kembali mengajar. Kembali membina umat. Mereka ikut mendirikan republik, tetapi tidak rakus terhadap republik," katanya.
Gus Lilur mengaku prihatin karena campur tangan kekuasaan sudah mulai muncul menjelang Muktamar ke-35 NU.
Salah satunya yaitu dalam bentuk pengondisian dukungan, pembentukan poros politik, penggunaan jaringan birokrasi, atau sekadar upaya mempengaruhi arah kepemimpinan PBNU.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"NU bukan organisasi masyarakat (ormas) biasa yang bisa diperlakukan sebagai alat politik kekuasaan. NU merupakan pilar yang membuat republik ini berdiri dan tetap bertahan sampai hari ini," kata dia
Kendati demikian, Gus Lilur mengatakan bahwa NU tak boleh larut dalam kepentingan kekuasaan sesaat. Ia berharap agar NU tetap menjadi penjaga moral republik.
Halaman Selanjutnya
"NU boleh dekat dengan negara, tetapi tidak boleh larut menjadi bagian dari kepentingan kekuasaan sesaat. NU harus tetap menjadi penjaga moral republik," pungkasnya.

8 hours ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)


