Harga Emas Cetak Rekor Lagi! Konflik Iran vs AS-Israel Bikin Safe Haven Diburu

1 week ago 5

Senin, 2 Maret 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVA Harga emas dunia di awal bulan Maret melonjak tajam, setelah serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Teheran, Ayatollah Ali Khamenei. Eskalasi ini memicu gelombang baru ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset lindung nilai.

Pada pukul 00.10 GMT, harga emas spot melonjak 1,72 persen menjadi US$5.368,09 per ons atau sekitar Rp90,18 juta (kurs Rp16.800), level tertinggi dalam lebih dari empat minggu. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat bahkan naik lebih tinggi, melonjak 2,58 persen menjadi US$5.382,60 per ons atau setara Rp90,43 juta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan tersebut memicu aksi militer lanjutan. Israel kembali melancarkan serangan ke Teheran pada Minggu, yang dibalas Iran dengan rentetan rudal. Ketegangan ini memperluas ketidakstabilan di Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran pasar global.

Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com, menilai dinamika konflik kali ini berpotensi lebih berbahaya dibanding eskalasi sebelumnya.

"Berbeda dengan eskalasi sebelumnya dalam konflik ini, terdapat insentif yang cukup kuat bagi kedua pihak untuk terus meningkatkan serangan, yang berisiko menciptakan lingkungan yang kacau, penuh ketidakpastian, dan sangat volatil, tidak hanya untuk beberapa hari saja. Dalam kondisi seperti ini, dinamika emas menjadi cukup positif," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Times of India, Senin, 2 Maret 2026.

Emas yang selama ini dipandang sebagai aset safe haven telah mencatat rekor demi rekor sepanjang tahun ini. Reli terbaru menambah kenaikan sekitar 64 persen sepanjang 2025, didorong oleh pembelian bank sentral, arus masuk dana besar ke produk exchange-traded fund (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.

Sejumlah bank global bahkan memperkuat proyeksi kenaikan harga emas. JPMorgan dan Bank of America menyebut harga emas berpotensi mendekati US$6.000 per ons atau sekitar Rp100,8 juta. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

JPMorgan memproyeksikan kombinasi permintaan bank sentral dan investor bisa mendorong harga hingga US$6.300 per ons atau sekitar Rp105,84 juta pada akhir 2026.

Data ekonomi Amerika Serikat turut menambah kehati-hatian pasar. Harga produsen AS pada Januari tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan tekanan inflasi bisa kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan penting, termasuk data ADP, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls.

Halaman Selanjutnya

Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot menguat 1,68 persen menjadi US$95,35 per ons atau sekitar Rp1,60 juta. Platinum naik 0,74 persen menjadi US$2.382,15 per ons atau sekitar Rp40 juta, sedangkan palladium bertambah 0,25 persen menjadi US$1.790,60 per ons atau sekitar Rp30 juta.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |