Harga Energi Kian Mahal, PM Inggris: Saya Muak dengan Trump dan Putin

2 weeks ago 9

Jumat, 10 April 2026 - 13:01 WIB

Jakarta, VIVA – Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, atas dinamika geopolitik global yang terjadi saat ini. Perang AS dan Iran menyebakan krisis energi yang menciptakan efek domino. '

Krisis energi akibat Iran menutup Selat Hormuz sebagai jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak global sehingga pasokan terbatas. Di satu sisi, permintaan tetap tinggi sehingga gesekan di jalur laut tersebut mendorong harga minyak dunia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Filipina dan Australia terang-terangan sudah berada di ujung tanduk krisis energi seiring ketidakjelasan lalu lintas di Selat Hormuz. Begitu juga dengan Indonesia yang mulai melakukan pengehamatan bahan bakar dengan penerapan work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), BUMN dan BUMD serta diharapkan diikuti oleh sektor swasta.

Starmer mengaku frustrasi melihat lonjakan tagihan energi di Inggris yang terus berfluktuasi akibat kebijakan yang diambil oleh Trump dan Putin. Ia mengaku 'bosan' dengan manuver kedua pemimpin negara itu.

Presiden AS Donald Trump dalam Press Conference, Senin 6 April

“Saya muak dengan kenyataan bahwa keluarga di seluruh negeri melihat tagihan energi mereka naik turun, begitu juga dengan dunia usaha karena tindakan Putin atau Trump di seluruh dunia,” ujar Starmer dalam wawancara di podcast Talking Politics pada Kamis yang dikutip dari  CNBC Internasional, Jumat, 10 April 2026

Lonjakan harga energi ini terjadi di tengah pergerakan harga minyak dunia yang masih bergejolak akibat konflik geopolitik, termasuk perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan, pasar energi tetap diliputi ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,55 persen ke level US$98,33 atau sekitar Rp 1,68 juta per barel pada Jumat pagi, 10 April 2026. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni menguat lebih dari 1 persen menjadi US$96,91 atau sekitar Rp 1,65 juta per barel.

Kenaikan harga minyak ini memperpanjang tekanan terhadap biaya energi global, termasuk di Inggris yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas tersebut.

Halaman Selanjutnya

Pada bulan Februari 2022, Rusia menginvasi Ukraina yang memicu perang bertahun-tahun hingga menyebabkan ratusan ribu kematian dan mengguncang perekonomian global.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |