Jakarta, VIVA – Pasar saham Asia mengalami tekanan besar setelah harga minyak dunia melonjak tajam mendekati US$120 per barel atau sekitar Rp2.028.000 (asumsi kurs Rp16.900). Lonjakan harga energi tersebut memicu aksi jual besar-besaran di sejumlah bursa utama kawasan pada awal pekan.
Melansir dari CNBC, Senin, 9 Maret 2026, kenaikan harga minyak terjadi setelah beberapa produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi, menyusul penutupan jalur pelayaran energi strategis di kawasan Teluk.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global sekaligus meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Salah satu bursa yang mengalami tekanan paling berat adalah indeks Kospi di Korea Selatan.
Indeks acuan tersebut bahkan sempat memicu mekanisme penghentian sementara perdagangan atau circuit breaker setelah anjlok lebih dari 8 persen dalam perdagangan Senin pagi.
Perdagangan di bursa sempat dihentikan selama sekitar 20 menit setelah indeks jatuh tajam pada pukul 10.31 waktu setempat. Pada perdagangan terakhir, indeks Kospi tercatat turun sekitar 8,58 persen.
Penurunan tajam tersebut turut menyeret saham-saham teknologi besar di Korea Selatan. Saham perusahaan raksasa semikonduktor Samsung Electronics merosot lebih dari 10 persen, sementara perusahaan chip SK Hynix turun sekitar 12,3 persen.
Koreksi tajam ini bukan yang pertama dalam beberapa hari terakhir. Pekan lalu, indeks Kospi juga sempat memicu circuit breaker setelah anjlok lebih dari 12 persen dalam satu hari, yang menjadi penurunan harian terburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar. Kontrak berjangka minyak Brent tercatat melonjak 26,1 persen hingga mencapai US$116,08 per barel atau setara sekitar Rp1.962.752 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga naik 27,6 persen menjadi US$116,03 per barel atau sekitar Rp1.961.907 per barel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kenaikan tajam ini tercatat sebagai lonjakan harga minyak harian terbesar sejak akhir 1980-an, menurut data pasar. Lonjakan tersebut terjadi setelah sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah, termasuk Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, memutuskan memangkas produksi minyak.
Keputusan ini diambil setelah jalur penting distribusi energi dunia, Selat Hormuz, ditutup akibat eskalasi konflik di kawasan.bKetegangan geopolitik yang meningkat membuat pasar global semakin waspada terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Halaman Selanjutnya
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia karena sebagian besar pengiriman energi dari Timur Tengah melewati wilayah tersebut.

1 day ago
3










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

