Harga Plastik Meroket, Industri Didorong Bangun Ketahanan Hadapi Tekanan Global

2 weeks ago 10

Sabtu, 11 April 2026 - 23:23 WIB

Jakarta, VIVA – Meroketnya harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal kuat atas tekanan terhadap rantai pasok global bahan baku. 

Kini, plastik tidak lagi sekadar isu lingkungan tapi juga berkembang menjadi tantangan ekonomi dan operasional bagi berbagai sektor industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) pun angkat bicara soal kenaikan harga plastik yang cukup tinggi. Dia menyebut bahwa kenaikan harga plastik dipicu oleh gangguan pada pasokan bahan baku, yang berdampak langsung pada ketersediaan dan distribusi di pasar. 

Kondisi ini mulai dirasakan oleh pelaku usaha karena kenaikan biaya bahan baku berpotensi menggerus margin dan meningkatkan tekanan biaya produksi.

Sementara itu, Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai plastik merupakan komoditas antara yang menopang banyak sektor industri. 

Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli.

Bagi konsumen, kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada harga dan ketersediaan produk sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik. 

"Kenaikan biaya produksi di tingkat industri pada umumnya akan diteruskan ke harga jual, sehingga mendorong masyarakat untuk mulai lebih selektif dalam memilih produk, termasuk mempertimbangkan alternatif konsumsi yang lebih efisien dan tidak bergantung pada plastik baru," kata dia.

Sejumlah pelaku usaha, termasuk di sektor usaha kecil dan menengah, juga mulai merasakan tekanan tersebut, karena kenaikan harga bahan baku kemasan berpotensi mengurangi margin usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Situasi ini mendorong pelaku usaha untuk mulai melihat ketergantungan terhadap plastik baru sebagai faktor risiko yang perlu dikelola secara lebih strategis, tidak hanya dari sisi biaya, tetapi juga keberlanjutan pasokan.

Seiring dengan itu, pendekatan dalam penggunaan kemasan pun mulai bergeser. Model berbasis produksi baru (single-use) dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga mendorong kebutuhan akan sistem yang lebih efisien dan adaptif, seperti penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill).

Halaman Selanjutnya

Perubahan pendekatan ini pun mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk industri air minum.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |