Hartanya Ribuan Triliun, Elon Musk Ngaku Uang Segunung Tak Bisa Beli Kebahagiaan

15 hours ago 1

Senin, 9 Februari 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVA – Di mata banyak orang, punya uang dalam jumlah sangat besar identik dengan hidup tanpa beban. Rumah mewah, teknologi canggih, kebebasan memilih apa saja, semuanya tampak seperti paket lengkap menuju kebahagiaan. 

Namun pernyataan terbaru dari Elon Musk justru mengguncang anggapan itu. Meski kekayaannya terus memecahkan rekor, ia mengakui bahwa uang tidak otomatis menghadirkan rasa bahagia untuknya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagaimana diketahui, kekayaan Musk dilaporkan melonjak menjadi US$852 miliar atau setara Rp14.313 triliun. Kakayaannya ini didorong dari penggabungan SpaceX dan xAI menjelang IPO besar. 

Namun, siapa disangka, bahwa angka fantastis itu ternyata tidak menjamin kepuasan pribadi. "Siapa pun yang mengatakan, ‘uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan," curhat Musk di platform X miliknya, sebagaimana dikutip dari Fortune, Senin, 9 Februari 2026.

Pernyataan itu langsung memicu respons luas, termasuk dari kalangan miliarder lain yang juga pernah bergulat dengan dilema serupa. Manajer hedge fund Bill Ackman menilai kebahagiaan sering kali datang dari perspektif dan kontribusi kepada orang lain.

"Banyak kebahagiaan datang dari membantu orang lain. Anda telah membantu jutaan orang, dan suatu hari kemungkinan akan miliaran. Anda hanya perlu menghargai apa yang telah Anda capai bagi begitu banyak orang," ungkapnya. 

Sementara itu, investor Mark Cuban melihat uang bukan sebagai sumber kebahagiaan baru, melainkan penguat kondisi yang sudah ada. "Jika Anda bahagia saat miskin, Anda akan sangat bahagia jika menjadi kaya," kata dia. 

"Jika Anda menderita, Anda akan tetap menderita, hanya dengan tekanan finansial yang jauh lebih sedikit," sambungnya. 

Realita Berdasarkan Penelitian

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rupanya, apa yang terjadi pada Elon Musk sudah pernah ada dalam penelitian. Studi Princeton University tahun 2010 menemukan kesejahteraan emosional harian meningkat seiring pendapatan, tetapi cenderung mendatar setelah sekitar US$75.000 per tahun atau kira-kira Rp1,26 miliar. 

Riset lebih baru dari Wharton School menunjukkan gambaran lebih kompleks. "Dalam istilah paling sederhana, ini menunjukkan bahwa bagi kebanyakan orang, pendapatan yang lebih besar terkait dengan kebahagiaan yang lebih besar," kata peneliti Matthew Killingsworth. 

Halaman Selanjutnya

"Pengecualiannya adalah orang-orang yang secara finansial mapan tetapi tidak bahagia. Misalnya, jika Anda kaya dan menderita, lebih banyak uang tidak akan membantu," sambungnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |