Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk

4 hours ago 1

loading...

Turnamen sepak bola terbesar di planet bumi, FIFA World Cup atau Piala Dunia selalu dipromosikan kepada kota-kota penyelenggara sebagai jackpot ekonomi, bagaimana dengan Piala Dunia 2026?. Foto/Dok

JAKARTA - Turnamen sepak bola terbesar di planet bumi, FIFA World Cup atau Piala Dunia selalu dipromosikan kepada kota-kota penyelenggara sebagai 'jackpot' ekonomi. Narasi yang dibangun selalu sama dan menggiurkan, banjir turis asing, hotel-hotel yang penuh sesak, jutaan lapangan kerja baru, serta perputaran uang senilai miliaran dolar.

Namun menjelang peluit kick-off pertama Piala Dunia 2026 dibunyikan, janji manis itu bisa berubah menjadi mimpi buruk finansial. Melambungnya harga tiket, lesunya pemesanan hotel, kebijakan imigrasi yang ketat, serta ketidakpastian ekonomi global kini memicu pertanyaan besar.

Apakah Piala Dunia 2026 kali ini yang diadakan secara bersamaan di tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bakal benar-benar mendatangkan keuntungan, atau justru berujung zonk bagi kota-kota di AS dan Kanada?

Kombinasi Visa Macet dan Isu Geopolitik Ancam Sepi Penonton

Salah satu faktor terbesar yang menahan minat penonton internasional untuk datang ke edisi Piala Dunia 2026 kali ini yang menjadi sejarah baru karena diikuti oleh 48 negara (terbanyak sepanjang sejarah) dan terbagi ke dalam 12 grup adalah agenda imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Seperempat Laga Piala Dunia 2026 Berisiko Tinggi

Bahkan pada April lalu, lembaga swadaya masyarakat seperti American Civil Liberties Union (ACLU) secara resmi merilis peringatan bahaya bagi turis asing yang hendak berkunjung ke AS. Sementara itu gelaran pertandingan bakal berlangsung di 16 kota yang tersebar dalam tiga negara.

Tak hanya itu, karut-marut birokrasi visa membuat calon penonton frustrasi. Meskipun pemerintah AS sempat membatalkan aturan deposit jaminan visa senilai USD15.000 bagi pemegang tiket resmi Piala Dunia 2026 pada bulan Mei, namun keterlambatan dalam proses penerbitan visa membuat banyak turis internasional terancam tidak bisa datang tepat waktu.

Situasi ini mengancam tingkat kedatangan wisatawan ke beberapa kota-kota di AS yang menggelar pertandingan yakni New York/New Jersey (tempat laga final), Los Angeles, Dallas, San Francisco Bay Area, Miami, Atlanta, Seattle, Houston, Philadelphia, Kansas City, hingga Boston.

Dampaknya langsung memukul bisnis perhotelan secara ekstrem, saat target hunian meleset jauh. Menurut American Hotel and Lodging Association, 80% tingkat pemesanan hotel berada di bawah ekspektasi. Dimana ada sebanyak 70% pengusaha hotel menunjuk hambatan visa dan kekacauan geopolitik global sebagai penyebab utamanya.

Di New York yang akan menjadi lokasi laga final, pemesanan hotel hanya menyentuh angka 65% dari target. Sementara di Seattle, 80% hotel mencatatkan performa yang jauh lebih sepi dibanding musim panas biasanya.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |