loading...
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat menginspeksi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah pada Jumat (5/6/2026). Foto/SIndoNews
MADINAH - Pemerintah secara resmi meningkatkan status kesiagaan layanan medis di Kota Madinah untuk menyambut kedatangan jemaah haji Indonesia gelombang kedua. Instruksi siaga penuh ini ditegaskan langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat menginspeksi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah pada Jumat (5/6/2026).
Inspeksi mendadak ini dilakukan guna memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia dalam menghadapi gelombang jemaah dengan tingkat kelelahan ekstrem. Jemaah gelombang kedua menuntut perhatian medis ekstra karena mereka tiba di Madinah setelah menguras tenaga pada fase puncak ibadah di Makkah.
Rentetan ibadah berat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dipastikan telah menurunkan daya tahan tubuh mayoritas jemaah secara drastis. Kondisi fisik yang sudah merosot tersebut masih harus dihadapkan pada rutinitas ibadah Arbain di Masjid Nabawi yang juga sangat menyita stamina.
Baca juga: 21.948 Jemaah Haji Reguler dan 7.702 Haji Khusus Sudah Tiba di Indonesia
"Hati-hati, ini gelombang kedua. Mereka pasti sudah capek di sana, sudah berat,” pesan Dahnil kepada tim kesehatan di KKHI.
Guna memitigasi potensi tumbangnya jemaah akibat akumulasi kelelahan, Dahnil menginstruksikan perubahan taktik operasional tim medis di lapangan. Petugas kesehatan haji dilarang bersikap pasif dengan hanya duduk menunggu pasien yang datang ke fasilitas layanan kesehatan.
Lihat video: 7 Ribu Lebih Jemaah Haji Indonesia Resmi Tiba di Tanah Air
Tim medis dituntut untuk menerapkan strategi jemput bola melalui pemantauan aktif yang menjangkau langsung area pemondokan jemaah. Penguatan koordinasi antara petugas KKHI Madinah dengan tim kesehatan di setiap sektor menjadi kunci utama deteksi dini penyakit.
"Harus standby dan harus aktif. Selain layanan di sini, tim visitasi ke sektor juga harus berjalan," tegas Dahnil.
Dalam blusukan tersebut, Dahnil juga menelisik secara detail kesiapan ruang layanan darurat dan ketersediaan stok obat-obatan esensial. Rantai distribusi logistik medis menuju sektor-sektor pemondokan di Madinah harus dipastikan berjalan lancar tanpa kendala birokrasi.
Layanan kesehatan dituntut untuk hadir secara cepat dan responsif menyentuh lapisan jemaah yang paling rentan. Evakuasi dan penanganan medis bagi kelompok lanjut usia (lansia) serta jemaah berisiko tinggi (risti) wajib menjadi prioritas utama tanpa kompromi.
"Pastikan kebutuhan layanan di sini siap, termasuk obat-obatan dan distribusi ke sektor. Jemaah harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan baik," perintah Dahnil untuk memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah.
Kementerian Haji dan Umrah menetapkan bahwa benteng pertahanan medis di Madinah ini merupakan fase krusial sebelum jemaah diterbangkan ke Tanah Air. Keselamatan setiap nyawa tamu Allah pada pergerakan pasca-Armuzna ini sepenuhnya bergantung pada kesigapan para pahlawan medis.
Menutup arahannya, Dahnil meluangkan waktu khusus untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi tanpa lelah dari seluruh tenaga kesehatan. Ia mengingatkan para petugas untuk turut menjaga stamina pribadi di tengah padatnya tekanan operasional musim haji tahun ini.
(cip)


































