Juara Setelah 22 Tahun, Coach Justin Tetap Kritik Cara Main Arsenal: Cuma Ngandelin Set Piece

3 weeks ago 14

Kamis, 21 Mei 2026 - 06:00 WIB

VIVA – Penantian panjang selama 22 tahun akhirnya berakhir. Arsenal resmi keluar sebagai juara Premier League 2025/2026 setelah Manchester City gagal menang saat bertandang ke markas Bournemouth.

Hasil imbang 1-1 yang diraih pasukan Pep Guardiola di Vitality Stadium, Rabu dini hari WIB, memastikan The Gunners tak lagi bisa dikejar di puncak klasemen. Gelar ini menjadi trofi Liga Inggris pertama Arsenal sejak era legendaris “The Invincibles” musim 2003/2004.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Euforia pun pecah di kalangan fans Arsenal. Namun di tengah perayaan besar tersebut, pengamat sepakbola Justinus Lhaksana atau akrab disapa  Coach Justin justru memberikan pandangan berbeda.

Coach Justin mengaku tetap bahagia melihat Arsenal akhirnya juara setelah menunggu lebih dari dua dekade. Tetapi, menurutnya, cara Arsenal meraih gelar musim ini masih menyisakan banyak catatan.

“Kalau dibilang juara ya pasti gue happy lah. Tapi gue harap fans Arsenal juga kritis, kita nikmati kemenangan ini, kejuaraan ini, tapi semoga kalian kritis nggak cuma lihat menang-menang doang,” kata Coach Justin dikutip dari akun YouTube Justinus Lhaksana.

Pengamat sepakbola, Coach Justin

Menurut pria yang akrab disapa Coach Justin itu, gelar Arsenal musim ini tidak lepas dari buruknya performa para rival utama, terutama Manchester City.

Ia bahkan menyebut musim 2025/2026 sebagai salah satu musim terburuk City dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terlihat dari inkonsistensi permainan hingga banyaknya kesalahan elementer yang dilakukan skuad Pep Guardiola.

“Kalau City seburuk itu musim ini, kenapa harus sampai detik-detik terakhir Arsenal jadi juara? Artinya Arsenal nggak sedahsyat itu,” ujarnya.

Coach Justin menilai Arsenal sebenarnya gagal menunjukkan dominasi penuh sepanjang musim. Ia menyoroti sejumlah kemenangan Arsenal yang dianggap tidak terlalu meyakinkan, termasuk ketika menghadapi tim papan bawah.

“Lawan West Ham rank 19 itu butuh VAR untuk menang. Lawan Burnley rank 20 butuh corner kick heading. Jadi nggak sedahsyat itu,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya itu, mantan pelatih futsal Timnas Indonesia tersebut juga mengkritik gaya bermain Arsenal yang dinilai terlalu bergantung pada situasi bola mati.

Menurutnya, tim sekelas Arsenal seharusnya mampu tampil lebih dominan dalam permainan terbuka setelah menghabiskan dana transfer sangat besar sejak era Mikel Arteta dimulai.

Halaman Selanjutnya

“Berapa gol yang Arsenal cetak dari set piece? Goal is goal, betul. Tapi apakah iya setelah tujuh tahun keluar 1,2 miliar cuma ngandelin set piece, ngandelin corner kick,” ucap Coach Justin.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |