loading...
Kapal tanker raksasa milik China, Yuan Hua Hu berhasil melintasi Selat Hormuz setelah terjebak selama lebih dari dua bulan akibat blokade ketat dalam perang Amerika Serikat-Iran. Foto/Dok
JAKARTA - Kapal tanker raksasa milik China , Yuan Hua Hu berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (13/5/2026), setelah terjebak selama lebih dari dua bulan akibat blokade ketat dalam perang Amerika Serikat-Iran. Langkah berani kapal pengangkut 2 juta barel minyak ini memicu tanda tanya besar?.
Apakah China telah menjalin kesepakatan rahasia di balik layar untuk mengamankan energi mereka saat dunia sedang di ambang krisis? Saat ini Yuan Hua Hu berlabuh di lepas Pantai Oman, dekat tempat Angkatan Laut AS mendirikan blokade terhadap kapal-kapal Iran, menurut data LSEG.
Misi Berbahaya di Jalur Neraka
Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) milik unit COSCO Shipping ini memecah kebuntuan setelah terkatung-katung sejak awal Maret. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler dan LSEG, Yuan Hua Hu membawa minyak mentah Basrah Medium dari Irak menuju pasar Asia.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup 70 Hari, Pasokan Minyak Dunia Terkuras 1 Miliar Barel
Menariknya, keberhasilan lintasan ini terjadi tepat saat Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu, serta hanya berselang seminggu setelah Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengunjungi Beijing. Hal ini memperkuat dugaan adanya negosiasi tingkat tinggi yang melibatkan perlindungan bagi kapal-kapal berbendera China di wilayah konflik.
Sinyal unik muncul di radar pelacakan satelit. Beberapa kapal China, termasuk kapal pengangkut kendaraan Xiang Jiang Kou, menyiarkan pesan khusus melalui transponder AIS mereka yang berbunyi: "Chinese vessel and crew" (Kapal dan awak China).
Pesan ini diduga kuat sebagai kode aman agar tidak diserang oleh pasukan Iran yang kini memperketat cengkeraman mereka di selat tersebut. Iran sendiri dilaporkan mulai memotong kesepakatan distribusi energi dengan Irak dan Pakistan, sebuah langkah yang disebut-sebut bertujuan mempermanenkan kontrol Teheran atas jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia tersebut.
Donald Trump: Kami Tidak Butuh Bantuan China
Meski China tampak mulai mengambil peran sebagai penengah yang aktif, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan pernyataan pedas sebelum mendarat di Beijing. "Saya rasa kita tidak butuh bantuan apa pun soal Iran. Kita akan memenangkan ini dengan satu atau lain cara, baik secara damai maupun tidak," tegas Trump kepada wartawan di Washington.
Trump secara terang-terangan menolak tuntutan Iran terkait kompensasi kerusakan perang dan menyebut posisi Teheran sebagai "sampah". Baca Juga: Tiga Tanker Minyak Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Begini Strateginya
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)