Jakarta, VIVA – Di tengah kabar ekonomi yang penuh ketidakpastian dan harga-harga yang terus naik, banyak orang refleks melakukan satu hal, yakni menyimpan uang tunai sebanyak mungkin. Saldo terlihat utuh, tidak naik-turun seperti saham, dan memberi rasa kontrol.
Secara psikologis, ini terasa seperti keputusan paling aman. Namun para ahli keuangan mengingatkan, rasa aman itu bisa menipu.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menahan uang dalam bentuk tunai memang memberi stabilitas secara nominal, tetapi tidak secara riil. Artinya, angka di rekening Anda mungkin tidak berubah, tetapi kemampuan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa terus melemah.
Dalam jangka panjang, kebiasaan menimbun uang tunai justru berisiko menggerus kekayaan secara perlahan tanpa terasa. Sebab, secara riil, nilai uang tersebut terus tergerus. Ketika Anda diam, inflasi akan tetap bergerak.
Inflasi bukan sekadar harga naik, tetapi tentang uang yang kehilangan daya belinya. Pada tingkat inflasi 4–6 persen, uang sebesar US$10.000 atau setara Rp168 juta yang tampak utuh di atas kertas bisa kehilangan sepertiga atau lebih daya belinya dalam 10 tahun.
"Satu hal yang akan saya katakan adalah investasi terburuk yang bisa Anda miliki adalah uang tunai yang nilainya akan menjadi lebih rendah seiring waktu. Tetapi bisnis yang baik akan menjadi lebih bernilai seiring waktu," kata Warren Buffett, sebagaimana dikutip dari Investopedia, Senin, 9 Februari 2026.
Secara luas, para ahli sepakat bahwa uang tunai bukan pertahanan jangka panjang yang efektif terhadap inflasi karena pertumbuhannya jarang cukup cepat untuk menjaga daya beli. Biaya sebenarnya bukan hanya pada apa yang diambil inflasi, tetapi juga peluang yang hilang, imbal hasil dari aset yang bisa tumbuh, berbunga majemuk, atau menyesuaikan diri dengan kenaikan harga.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski begitu, ada kondisi di mana memegang uang tunai itu penting. Dana darurat untuk 3–6 bulan pengeluaran, atau dana untuk kebutuhan jangka dekat seperti DP rumah, biaya kuliah, atau perbaikan besar, memang lebih cocok disimpan dalam bentuk yang likuid dan stabil.
Kuncinya adalah, tujuannya. Uang tunai efektif sebagai bantalan dan jembatan, bukan tempat berlindung jangka panjang dari inflasi. Daripada membiarkan uang menganggur, pakar sering menyarankan “parkir” yang lebih cerdas. Tabungan berbunga tinggi dan reksa dana pasar uang bisa sedikit meredam dampak inflasi. Obligasi lindung inflasi yang dirancang menyesuaikan nilai dengan kenaikan harga, meski likuiditasnya lebih rendah.
Halaman Selanjutnya
Untuk jangka lebih panjang, saham pembagi dividen, ETF saham luas, serta aset riil seperti properti atau komoditas, memberi potensi pertumbuhan dan sensitivitas terhadap inflasi, meski dengan fluktuasi yang menuntut kesabaran.

4 weeks ago
6










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

