VIVA –Berdasarkan hasil penelitian Universitas Islam Bandung (Unisba) baru-baru ini menemukan 66,7 persen masyarakat di Indonesia masih beranggapan bahwa kental manis adalah susu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa literasi mengenai jenis dan peruntukan produk pangan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui edukasi berkelanjutan.
Di sisi lain, Singapore Food Database menunjukkan terdapat sekitar 50 g gula dalam 100 ml kental manis. Artinya, sebanyak 30 ml susu kental manis mengandung lebih dari 15 gram gula. Sementara asupan gula tidak lebih dari 19 gram untuk anak usia 2-6 tahun berdasar rekomendasi World Health Organization (WHO).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meluruskan pemahaman masyarakat mengenai kental manis tidak cukup dilakukan sekali. Edukasi gizi yang berkelanjutan diperlukan untuk memastikan masyarakat memahami bahwa kental manis memiliki peruntukan yang berbeda dengan susu dan tidak semestinya dijadikan sebagai minuman susu bagi anak.
Persoalan kesalahan konsumsi kental manis ini terutama di daerah Cilacap juga mendapat sorotan. Asisten Administrasi Umum Sekertaris Daerah Kabupaten Cilacap, Budi Santosa tidak menampik bahwa masih banyak masyarakat yang belum paham bahwa kental manis peruntukannya bukan untuk susu. Maka dari itu perlu penguatan edukasi untuk masyarakat mengenai permasalahan ini.
"Memang ada masyarakat yang masih belum paham betul terkait dengan kental manis ini seperti apa sebenarnya. Apakah kental manis sama dengan susu formula dan ASI. Perlu ada kegiatan-kegiatan yang memang harus kita push betul," ucap Budi.
Melihat hal itu, Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menggelar edukasi untuk kader Muslimat NU di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis 17 September, hasil kolaborasi bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara mengatakan, membekali kader dengan informasi kesehatan ini diharapkan dapat mendorong kader berperan aktif sebagai agent of change untuk membantu meluruskan kesalahan konsumsi susu pada anak dan balita di lingkungan sekitarnya.
Lebih lanjut, Erna mengatakan terus mendorong peran kader untuk mengedukasi masyarakat mengenai kesalahan konsumsi kental manis. Erna menyebut kader merupakan tokoh di wilayahnya yang mampu menjadi penyebar informasi yang efektif.
Halaman Selanjutnya
"Kader muslimat NU banyak merupakan ustadzah, nyai dan mempunyai banyak jamaah sehingga bisa menyebarkan edukasi kepada sekitarnya. Karena konsumsi kental manis secara berlebih berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan," ungkap Erna.

1 day ago
1





















