Kontroversi Lagu Bupati Purwakarta, Atalia Praratya Protes Lirik yang Tak Hormati Perempuan

2 weeks ago 3

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:08 WIB

Purwakarta, VIVA – Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, tengah menjadi sorotan usai lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit Lalanang Bejat" menuai kontroversi. Karya yang semula diperkenalkan dalam gelaran Hajat Bumi di Lingga Mukti itu justru memicu kritik keras, termasuk dari Atalia Praratya yang menilai liriknya merendahkan perempuan dan bertentangan dengan nilai budaya Sunda.

Lagu tersebut awalnya disebut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur. Namun setelah liriknya beredar luas di media sosial, berbagai kalangan mempertanyakan pesan yang terkandung di dalamnya. Sejumlah bagian lagu dinilai mengandung stereotip gender, menampilkan superioritas laki-laki, hingga dianggap menyudutkan perempuan melalui guyonan yang sensitif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kritik paling tajam datang dari Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengaku tidak mampu menemukan makna positif dari lirik lagu tersebut meski telah berusaha melihatnya dari berbagai sudut pandang.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia Praratya di Instagram, dikutip Rabu, 1 Juli 2026.

Menurut Atalia, persoalan lagu tersebut bukan sekadar soal selera seni atau kebebasan berekspresi. Ia menilai pilihan kata yang digunakan justru bertolak belakang dengan nilai-nilai yang selama ini melekat dalam budaya Sunda.

Ia mengungkapkan bahwa bahasa Sunda memiliki kekayaan kosakata yang indah dan sarat pesan moral. Karena itu, ia mempertanyakan mengapa karya yang dibawakan oleh seorang kepala daerah justru memilih narasi yang dianggap merendahkan perempuan.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia Praratya.

Halaman Selanjutnya

Dalam pandangan Atalia, filosofi Sunda selalu mengedepankan kasih sayang, saling mendidik, saling membimbing, serta saling menghargai. Oleh sebab itu, ia merasa lirik yang menjadikan persoalan biologis perempuan sebagai bahan candaan tidak mencerminkan semangat budaya tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |