Jakarta VIVA – Kriminolog, Tegar Bimantoro menyoroti konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang kian memanas. Tegar mengatakan konflik tersebut bisa mempengaruhi peta keamanan domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sebab, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis pernyataan yang mengonfirmasi bahwa jika agresi militer terhadap kedaulatan Iran benar-benar terjadi, skala konflik tidak lagi akan terlokalisasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
IRGC memperingatkan bahwa mereka siap membawa perang baru ini melampaui batas wilayah Timur Tengah (Asia Barat) menuju tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkan oleh Amerika Serikat maupun Israel.
Tegar menilai bahwa dampak paling instan dan berbahaya bagi Indonesia bukanlah serangan militer langsung, melainkan manifestasi kriminalitas ideologis di dalam negeri.
"Meskipun secara geografis Indonesia tidak termasuk dalam wilayah Timur Tengah maupun Asia Barat, pernyataan IRGC ini tetap akan menimbulkan efek domino yang signifikan bagi kelompok-kelompok radikal di Indonesia," kata Tegar dalam keterangannya, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa dinamika tersebut membuka ruang bagi munculnya multiperspektif dan banyak skenario ancaman yang harus dipetakan untuk analisis keamanan ke depan.
Namun, untuk membaca arah gerak jangka pendek, Tegar menyoroti dua skenario krusial yang saat ini sedang terjadi di permukaan.
Tegar memperingatkan bahwa momentum kekacauan ini bisa dimanfaatkan oleh pihak lain yang 'tertidur', baik yang berafiliasi dengan ISIS/Sunni maupun simpatisan Syiah yang lebih militan. Untuk membangun dan melakukan aksi teror mandiri di dalam negeri sebagai bentuk solidaritas atau pemanfaatan momentum.
"Kedua yaitu propaganda narasi anti-barat. Eskalasi militer AS terhadap negara Muslim hampir selalu digoreng oleh kelompok radikal lokal sebagai narasi 'Barat menyerang Islam'," ujar dia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tegar menekankan bahwa narasi tersebut adalah bahan bakar utama untuk propaganda online. "Kondisi ini memicu proses radikalisasi cepat di media sosial, yang mempermudah rekrutmen jaringan teror serta mengarahkan sentimen kebencian terhadap aset-aset Barat di Indonesia," katanya.
Dalam konteks digital saat ini, kata Tegar, ruang interaksi tersebut telah bergeser ke ruang siber. Ia menilai kelompok radikal lokal bakal beraksi melalui komunikasi online.
Halaman Selanjutnya
Meskipun Indonesia jauh dari Asia Barat, individu di dalam negeri yang terpapar secara konstan pada narasi "Barat penindas" di ruang siber akan mempelajari teknik, motif, dan rasionalisasi untuk melakukan tindakan radikal di wilayahnya sendiri.

5 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)


