Purwakarta, VIVA – Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejad" yang dibawakan Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menjadi perbincangan luas di media sosial. Karya berbahasa Sunda tersebut menuai respons beragam karena sebagian liriknya dinilai menyinggung pengalaman biologis perempuan, sehingga memunculkan perdebatan mengenai batas antara kebebasan berkarya, humor, dan penghormatan terhadap perempuan.
Kontroversi ini berkembang setelah sejumlah tokoh publik dan warganet menilai lirik lagu tersebut mengandung stereotip gender. Di sisi lain, Om Zein menjelaskan bahwa lagu tersebut merupakan bentuk ekspresi pribadi yang menceritakan dirinya sebagai laki-laki dan tidak dibuat untuk menghina ataupun merendahkan perempuan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bupati Purwakarta Om Zein
Perbedaan cara pandang tersebut kemudian menjadikan lagu ini tidak sekadar karya hiburan, melainkan bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai budaya, etika, dan komunikasi di ruang publik.
Perdebatan Tidak Hanya Soal Lirik
Kontroversi terhadap lagu ini tidak berhenti pada isi lirik semata. Banyak pihak melihat persoalan tersebut sebagai benturan antara tradisi humor lokal dengan perubahan cara masyarakat menafsirkan sebuah karya di era digital.
Dalam budaya Sunda, banyolan, heureuy, sisindiran, maupun kritik sosial dengan bahasa yang lugas merupakan bagian dari tradisi lisan yang telah lama hidup di masyarakat. Namun ketika sebuah karya menyebar melalui media sosial, audiensnya menjadi jauh lebih beragam dengan latar belakang budaya dan perspektif yang berbeda.
Akibatnya, candaan yang sebelumnya mungkin diterima dalam komunitas tertentu dapat dimaknai secara berbeda oleh publik yang lebih luas.
Analisis Akademik: Sebuah Teks Budaya yang Sarat Makna
Akademisi dan budayawan Sunda Budi Setiawan, S.Li., M.Sn. (Budi Dalton) memandang lagu tersebut bukan sekadar lagu viral, melainkan sebuah teks budaya yang dapat dibaca dari berbagai sudut pandang.
Menurutnya, lagu itu berada di persimpangan antara ekspresi seni, humor satiris, maskulinitas, serta kontroversi mengenai relasi gender.
Budayawan Sunda, Budi Setiawan
Photo :
- YouTube/UniversitasPasudan
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Sebuah lagu tidak berhenti pada maksud penciptanya; maknanya lahir kembali melalui cara masyarakat membaca, merasakan, dan menafsirkan setiap liriknya," ujar Budi Dalton dalam analisisnya.
Ia menjelaskan bahwa struktur lagu dibangun melalui pola ungkapan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki, yang kemudian dibandingkan dengan pengalaman biologis perempuan.
Halaman Selanjutnya
Menurut Budi, persoalan utama bukan terletak pada ungkapan rasa syukur itu sendiri, melainkan ketika rasa syukur dibangun melalui perbandingan yang berpotensi merendahkan pengalaman pihak lain.

4 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8004128/original/059258800_1780843343-word_media_image4.jpg)




