Lewat Hikayat Perahu, Seni Pertunjukan Indonesia Tembus La Biennale Venezia 2026

5 hours ago 1

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:00 WIB

Jakarta, VIVA – Seni pertunjukan Indonesia kembali melangkah ke panggung internasional paling bergengsi. Hikayat Perahu / The Tale of Boat, produksi Bumi Purnati, resmi masuk dalam program Performing Arts 2026 di La Biennale di Venezia, Italia. Ini menjadi bukti nyata bahwa karya budaya Nusantara kian diperhitungkan di tingkat global.

Pertunjukan ini menggabungkan kekuatan teater, musik tradisional, dan narasi spiritual Asia Tenggara dalam satu panggung yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin kreatif. Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Riccardo Mazzoni, music producer sekaligus pendiri MusicYes, yang dipercaya menangani seluruh produksi audio resmi bersama RM Entertainment dan Red Studio. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepercayaan itu datang langsung dari Restu Imansari Kusumaningrum, figur sentral dalam pengembangan seni pertunjukan Indonesia di kancah internasional.

Hikayat Perahu / The Tale of Boat berasal dari karya sastra sufi Melayu berjudul Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri. Pertunjukan ini melukiskan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui simbolisme perahu yang mengarungi samudra kehidupan.

Sri Qadariatin menjadi sutradara di balik pementasan ini. Namanya sudah tidak asing di dunia seni pertunjukan internasional, terutama melalui keterlibatannya dalam produksi legendaris Robert Wilson seperti I La Galigo dan Persephone.

Di balik kemegahan panggung, ada proses produksi audio yang tidak sederhana. Tim Riccardo Mazzoni bersama Red Studio merekam dialog teater, vokal tradisional, instrumen etnik, hingga perkusi budaya Nusantara. Semua materi kemudian diproses dengan pendekatan sound design sinematik, audio restoration, mixing profesional, dan mastering berstandar internasional.

Riccardo mengakui bahwa proyek ini membawa tantangan yang berbeda dari produksi musik pada umumnya.

“Instrumen tradisional dan nyanyian budaya tidak bisa diperlakukan seperti produksi pop biasa. Ada resonansi emosional dan spiritual yang harus tetap hidup. Tugas kami bukan sekadar membuat audio terdengar bagus, tetapi memastikan identitas artistiknya tetap utuh ketika dipresentasikan kepada audiens internasional,” ujar Riccardo Mazzoni, dalam keterangannya, dikutip Kamis 21 Mei 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Red Studio sendiri beroperasi di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Studio ini dikenal konsisten mengembangkan karya musik dan budaya dengan pendekatan produksi modern yang tetap menjaga karakter autentik tradisional.

Halaman Selanjutnya

Tidak berhenti pada pertunjukan langsung di Venezia, seluruh materi audio juga dipersiapkan untuk distribusi digital global melalui MusicYes Digital Distribution. Sejak 2016, MusicYes aktif mendukung distribusi world music dan musik etnik Indonesia ke berbagai platform internasional.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |