(Artikel ini ditulis oleh Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. Ekonom Indef dan Rektor Universitas Paramadina)
VIVA – Nilai tukar rupiah menjadi begitu lemah pada saat ini dan bahkan dinyatakan sudah “undervalue”. Kita perlu mencari tahu sebab-sebab mengapa pasar tidak lagi berpihak kepada kita sehingga nilai tukar terus menurun. Ini masalah ekonomi politik, tidak sekedar teknis ekonomi, yang menjadi penyebabnya. Tetapi kita punya "best practice" bagaimana krisis ekonomi dan politik pada tahun 1998 perlahan bisa dipulihkan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pengalaman Presiden BJ Habibie dalam waktu singkat bisa menurunkan nilai tukar rupiah dari 16.800 rupiah per dolar menjadi 6.500 rupiah per dolar bisa dijadikan acuan untuk membuat kebijakan yang komprehensif.
Saya menjadi saksi dan pelaku langsung. Pada saat itu saya diangkat sebagai anggota Tim Reformasi Nasional bidang Ekonomi berdasarkan Kepres BJ Habibie, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 198 TAHUN 1998, TENTANG PEMBENTUKAN TIM NASIONAL REFORMASI MENUJU MASYARAKAT MADANI).
Saya berpendapat, B.J. Habibie berhasil menurunkan nilai tukar rupiah karena faktor kepercayaan (trust) yang mulai terlihat setelah hampir setahun menjadi presiden pada periode yang singkat.
Peran transisi B.J. Habibie yang awalnya diragukan - karena dianggap sebagai bagian dari Orde Baru - perlahan mulai dipercaya karena komitmennya terhadap reformasi institusi ekonomi, bersungguh-sungguh menjalankan demokrasi dan desentralisasi otonomi daerah, serta keikhlasannya tanpa vested interest untuk kebangkitan kembali Indonesia menjadi normal dan pulih.
Meskipun awalnya sangat ditentang keras, Habibie yakin bahwa posisinya sebagai presiden transisi absah dan legal. Dengan dasar ini dan keyakinan penuh, presiden selalu menyampaikan bahwa tugasnya adalah untuk memulihkan kepercayaan kembali kepada pemerintah. Posisinya disampaikan implisit maupun eksplisit hanya sebagai presiden transisi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sangat mudah dipahami bahwa krisis 1998 pada dasarnya adalah krisis kepercayaan dan sekaligus krisis institusi, bukan hanya krisis fundamental dari aspek teknis ekonomi. Karena itu, presiden yakin ketika kepercayaan mulai pulih, rupiah bisa kembali ke level posisi sebenarnya dan bahkan mulai menguat kembali.
Yang dilakukan oleh Presiden Habibie untuk memperkuat trust, secara bersamaan tidak hanya pemulihan confidence dalam bidang ekonomi tetapi juga komitmen politik untuk mentransformasikan bangsa ini menjadi terbuka dan demokrasi.
Halaman Selanjutnya
Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dilakukan dengan menitikberatkan kepada sumberdaya manusia dan mencerdaskan bangsa (20 persen APBN untuk pendidikan), kualitas SDM melalui kesehataan (BPJS), otonomi daerah, sistem pemilihan langsung dan elemen-elemen sistem demokrasi lainnya.
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

4 hours ago
5











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)


