Mentan Bongkar Dugaan Akal-akalan Beras Premium, Dialihkan Jadi Beras Fortifikasi Dijual hingga Rp42.000 per Kg

6 days ago 3

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:10 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan penyebab beras premium yang belakangan sulit ditemukan di pasaran. Menurutnya, sebagian stok beras premium diduga sengaja dialihkan menjadi beras fortifikasi agar dapat dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Amran mengatakan dugaan tersebut masih dalam tahap pendalaman. Namun, indikasi yang ditemukan Kementerian Pertanian (Kementan) mengarah pada praktik pengalihan beras premium menjadi beras khusus atau beras fortifikasi yang telah ditambahkan vitamin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Salah satunya. Indikasi itu sementara ya," kata Amran kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.

Menurut Amran, alasan yang selama ini disampaikan pelaku usaha mengenai tipisnya margin keuntungan dari penjualan beras premium dinilai tidak sesuai dengan temuan di lapangan.

Diduga Jadi Cara Pengusaha Meraup Untung Lebih Besar

Amran menduga sebagian pelaku usaha sengaja mengalihkan penjualan beras premium ke kategori beras fortifikasi demi memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Ia menjelaskan, pemerintah selama ini telah melakukan pengawasan terhadap harga dan distribusi beras premium. Karena ruang gerak yang lebih terbatas, sebagian pelaku usaha diduga mencari celah dengan mengubah kategori produk menjadi beras fortifikasi.

"Sebelumnya dibilang dia geser ke sana (fortifikasi), dugaan kami kalau dia premium kan tidak bisa main-main, karena kita kunci. Nah berpindah lagi dengan alasan margin tipis, karena selalu mau cari untung banyak," ujar Amran.

Ia bahkan menyoroti harga jual beras fortifikasi yang menurutnya sudah jauh melampaui batas kewajaran.

"Bayangkan kalau jual Rp42.000 per kilogram, gila nggak untungnya?" katanya.

Kementan Temukan 80 Persen Merek Tak Sesuai Standar

Kementerian Pertanian mengaku telah melakukan pengambilan sampel terhadap berbagai merek beras fortifikasi yang beredar di pasaran.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan mayoritas produk yang diuji tidak memenuhi standar sebagai beras fortifikasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Amran, terdapat produk yang sebenarnya memiliki kualitas setara beras premium, bahkan ada yang hanya berkualitas medium, tetapi dipasarkan dengan label beras khusus atau beras fortifikasi.

"Totalnya setelah kita ambil sampel, ini seluruh yang terdaftar fortifikasi, ada juga yang tidak terdaftar. Yang terdaftar itu ada 80 persen tidak sesuai standar," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya

Selain persoalan mutu, Kementan juga menemukan harga jual yang dinilai sangat tinggi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |