Menu Buka Puasa untuk Pasien Kanker, Dokter Ungkap Pola Makan yang Aman dan Seimbang

11 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani ibadah puasa Ramadan sering menimbulkan pertanyaan bagi sebagian pasien kanker, terutama terkait pola makan saat sahur dan buka puasa. Banyak yang khawatir apakah menu buka puasa tertentu aman dikonsumsi atau justru dapat memengaruhi kondisi kesehatan.

Dokter spesialis bedah konsultan onkologi dari RS EMC Alam Sutera, dr. Denni Joko Purwanto menjelaskan bahwa pasien kanker, termasuk kanker payudara, sebenarnya tidak perlu terlalu bingung menentukan menu sahur dan buka puasa. Hal terpenting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi seimbang.

"Yang penting makanannya itu seimbang, bergizi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, tidak berlebihan. Artinya kita perlu tenaga, tenaga itu dari karbohidrat, kita perlu zat-zat pembangun dari protein," kata Denni kepada Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Menurut Denni, karbohidrat tetap menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Sumber karbohidrat bisa diperoleh dari berbagai makanan yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia, seperti nasi, roti, kentang, hingga ketela.

Selain karbohidrat, tubuh juga membutuhkan protein sebagai zat pembangun untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Proses perbaikan sel tidak hanya didukung oleh istirahat yang cukup, tetapi juga memerlukan asupan protein yang memadai.

"Protein hewani seperti ikan, telur, dan daging itu penting untuk membantu perbaikan sel tubuh. Asal tidak berlebihan itu boleh. Protein nabati juga ada seperti jamur," ujarnya.

Tak kalah penting, vitamin juga memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Vitamin membantu proses regulasi berbagai sistem dalam tubuh agar tetap berjalan optimal.

Denni menambahkan bahwa salah satu vitamin yang penting bagi pasien kanker adalah vitamin D. Vitamin ini dapat diperoleh dari produk susu serta paparan sinar matahari.

"Vitamin perlu juga karena itu untuk meregulasi tubuh kita. Jangan lupa kita perlu vitamin D, vitamin D memang banyaknya dari susu, produk susu, dibantu sinar matahari dan aktivitas fisik. Walau puasa kita harus terus bergerak," ujar Denni.

Dia mengibaratkan kehidupan seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, tubuh harus terus bergerak.

"Life is like riding bicycle, if you want to keep balance you must keep moving," kata Denni.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |