Jakarta, VIVA – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi menegaskan, penguatan penerbangan domestik akan menjadi strategi menghadapi penutupan ruang udara di sejumlah negara, yang mengganggu konektivitas global dan berpotensi menekan mobilitas serta permintaan perjalanan.
Dia mengatakan, pemerintah menahan kenaikan tarif tiket domestik agar tetap terjangkau, sehingga masyarakat dapat bepergian dan aktivitas ekonomi serta mobilitas nasional tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Itu sebabnya kita menjaga kenaikan tiket domestik tidak terlalu tinggi agar masyarakat tetap bisa bepergian," kata Menhub di Jakarta, Kamis malam, 9 April 2026.
Menurutnya, stabilitas tarif domestik penting untuk menjaga pergerakan penumpang ketika dinamika global menekan penerbangan internasional dan sektor pariwisata.
Dudy menyebut pengalaman krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 menunjukkan pasar domestik menjadi penopang utama pariwisata saat kunjungan wisatawan asing turun tajam.
"Saat krisis dan COVID-19, pasar domestik menjadi bantalan pariwisata. Karena itu, kami menjaga agar masyarakat tetap bepergian," ujarnya.
Pemerintah menurutnya terus berupaya memastikan perjalanan dalam negeri tetap berjalan, guna menjaga keberlangsungan industri pariwisata dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Langkah ini juga untuk mengantisipasi penurunan arus wisatawan dari luar negeri," kata Dudy.
Dia juga menanggapi isu pembatasan ruang udara termasuk oleh China, yang dinilai akan berdampak pada penerbangan dan pariwisata Indonesia meski berada di luar kendali pemerintah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, tiap negara memiliki pertimbangan sendiri dalam kebijakan penerbangan, sehingga Indonesia tidak dapat mengintervensi dan harus menyesuaikan langkah secara adaptif.
"Dampaknya ada, seperti penurunan pariwisata. Kita tidak bisa melarang negara lain mengurangi penerbangan karena kondisi mereka harus dipahami," ujarnya. (Ant).
China Mendadak Tutup Wilayah Udaranya selama 40 Hari, Ada Apa?
China secara misterius telah mengumumkan pembatasan wilayah udara di lepas pantainya selama 40 hari, meskipun China tidak memberikan alasan untuk langkah mendadak ini.
VIVA.co.id
9 April 2026

2 weeks ago
9



























