Beijing, VIVA – Persaingan industri otomotif global kini memasuki babak baru. Jika dahulu pabrikan berlomba menghadirkan mesin paling bertenaga atau fitur paling lengkap, sekarang kecepatan mengembangkan mobil baru menjadi senjata utama.
Produsen mobil Jepang, Nissan, menjadi salah satu perusahaan yang mulai mengubah cara kerjanya. Menariknya, perubahan besar tersebut justru banyak dipengaruhi pengalaman mereka berbisnis di China, negara yang kini dikenal memiliki industri otomotif paling agresif di dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Disadur VIVA Otomotif dari Carnewschina, Minggu 14 Juni 2026, Nissan mengumumkan berhasil memangkas waktu pengembangan kendaraan dari sebelumnya sekitar 55 bulan menjadi hanya 26 bulan. Artinya, mobil generasi baru bisa lahir hampir dua kali lebih cepat dibanding metode konvensional yang selama ini digunakan industri otomotif.
Transformasi tersebut disebut akan diterapkan pada sekitar 90 persen proyek kendaraan Nissan mulai tahun fiskal 2026. Model legendaris Skyline generasi terbaru menjadi salah satu kendaraan yang dikembangkan menggunakan sistem baru ini.
Perubahan besar itu tak lepas dari pelajaran yang didapat Nissan dari China. Melalui kerja sama dengan Dongfeng Motor, perusahaan mempelajari cara kerja industri otomotif setempat yang terkenal cepat dalam menghadirkan produk baru ke pasar.
Salah satu contoh keberhasilannya terlihat pada mobil listrik Nissan N7 yang diluncurkan di China pada 2025. Model tersebut dikembangkan hanya dalam waktu sekitar dua tahun, jauh lebih singkat dibanding siklus pengembangan mobil pada umumnya.
Kecepatan itu didukung pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di berbagai tahapan pengembangan kendaraan. Teknologi tersebut membantu proses desain, simulasi pengujian, hingga analisis data pasar.
Pada tahap desain, AI mampu menghasilkan berbagai usulan rancangan kendaraan secara otomatis, sekaligus mengoptimalkan aspek aerodinamika dan estetika. Cara ini membuat proses revisi menjadi lebih singkat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penggunaan simulasi virtual juga semakin besar. Sebagian pengujian yang sebelumnya membutuhkan prototipe fisik kini dapat dilakukan secara digital, sehingga waktu dan biaya pengembangan bisa ditekan.
AI juga digunakan untuk menganalisis permintaan pasar dan rantai pasok komponen. Dengan begitu, perusahaan dapat mengantisipasi risiko kekurangan suku cadang serta mempercepat transisi dari tahap riset menuju produksi massal.
Halaman Selanjutnya
Fenomena ini menunjukkan bahwa peta kekuatan industri otomotif dunia mulai berubah. Jika dahulu pabrikan Jepang menjadi acuan dalam efisiensi produksi, kini mereka justru belajar dari kecepatan inovasi yang berkembang di China.

5 hours ago
1














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)