Kamis, 2 Juli 2026 - 09:16 WIB
Jakarta, VIVA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan tengah menghadapi tekanan keuangan serius. Organisasi internasional tersebut memperkirakan dana tunai untuk operasional akan habis pada Agustus 2026 apabila belum ada tambahan kontribusi dari negara-negara anggota.
Kondisi tersebut disampaikan Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Perencanaan Program, Keuangan, dan Anggaran, Chandramouli Ramanathan, dalam konferensi pers pada Rabu, 1 Juli 2026 waktu setempat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut Ramanathan, anggaran reguler PBB saat ini berada dalam kondisi yang sangat terbatas sehingga organisasi tersebut nyaris tidak memiliki cadangan dana untuk membiayai operasional setelah Agustus hingga September.
"Kami juga hampir tidak memiliki dana tunai dalam anggaran reguler. Setelah Agustus dan September, kami tidak memiliki dana lagi. Dana sudah habis. Kami masih menunggu pengumpulan kontribusi agar dapat bertahan setelah September," ujar Ramanathan.
Ia menjelaskan bahwa situasi keuangan saat ini membuat PBB harus mengelola anggaran dengan sangat ketat demi memastikan berbagai program tetap berjalan di tengah keterbatasan dana yang tersedia.
Dana Tunai Diperkirakan Habis pada Akhir Tahun
Ramanathan mengatakan, berdasarkan proyeksi yang dimiliki PBB, organisasi tersebut hampir dipastikan akan mengakhiri tahun 2026 tanpa cadangan dana tunai.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa PBB hanya mampu menjalankan operasional dengan anggaran yang telah dipangkas apabila tidak ada tambahan pemasukan yang signifikan.
"Apapun yang terjadi, kemungkinan besar kami akan mengakhiri tahun ini tanpa dana tunai. Artinya, kami nyaris hanya bisa bertahan dengan anggaran yang sudah dikurangi," katanya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena anggaran reguler PBB digunakan untuk membiayai berbagai aktivitas utama organisasi, mulai dari administrasi, operasional sekretariat, hingga pelaksanaan sejumlah program internasional.
Kontribusi AS dan China Jadi Penentu
Dalam kesempatan tersebut, Ramanathan juga menyoroti pentingnya kontribusi dari dua negara penyumbang terbesar PBB, yakni Amerika Serikat dan China.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menyebut PBB berpotensi menghadapi krisis keuangan pada September apabila kedua negara tersebut belum memenuhi kewajiban kontribusinya sesuai jadwal.
Meski demikian, Ramanathan menegaskan bahwa pembayaran dari Amerika Serikat dan China hanya akan membantu menjaga kelangsungan operasional dalam jangka pendek.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, sekalipun kedua negara membayar kontribusi secara penuh dan tepat waktu, PBB tetap diperkirakan mengakhiri tahun 2026 dengan kondisi kas yang hampir kosong.

2 weeks ago
3











