Penanganan Karhutla, Pakar Dorong Pencegahan Berbasis Risiko Sepanjang Tahun

2 hours ago 1

loading...

Raffles B Panjaitan, Asep Karsidi, dan Sugijanto Soewadi dalam podcast Forest Insights bertema Kenapa Karhutla Terus Berulang? Begini Cara Sebenarnya Cegah Karhutla. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) perlu dijalankan sebagai sistem berbasis risiko sepanjang tahun dengan memadukan analisis iklim melalui monitoring/informasi cuaca, analisis wilayah, dan modifikasi cuaca . Kemudian pengendalian operasional melalui satgas terpadu, deteksi dini, kesiapan pemadaman darat dan udara, pengaktifan posko taktis lapangan, penegakan hukum dengan pelibatan masyarakat peduli api (MPA).

Selanjutnya pengelolan lanskapdengan pengerahan para pemilik lahan, pertanian tradisional serta pengendalian pengelolaan lahan gambut , pengelolaan air, teknologi pemantauan, kesiapan personel, dan partisipasi masyarakat di tingkat tapak.

Pakar kebakaran hutan dan lahan Raffles B Panjaitan mengatakan pengendalian karhutla mencakup pencegahan dan penanggulangan serta pemulihan lahan terbakar. Sayangnya perhatian selama ini masih sering lebih besar diberikan ketika kebakaran telah terjadi. Baca juga: KLH Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla Meluas

Pengendalian kebakaran hutan dan lahan harus dilakukan sepanjang tahun. ”Pencegahan tidak semestinya baru dimulai saat memasuki musim kemarau, tetapi kegiatannya harus dirancang sejak awal tahun termasuk Januari, Februari dan Maret dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola di tingkat tapak, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, dan masyarakat,” kata Raffles, Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, intervensi berbasis cuaca, termasuk teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan saat potensi awan masih cukup untuk disemai, harus diikuti tindakan nyata di lapangan. Air hujan yang dihasilkan perlu dikelola melalui sekat kanal, embung, dan infrastruktur penampungan lain agar dapat menjaga kelembapan lahan, khususnya gambut, ketika musim kemarau berlangsung. Dari pengalaman 10 tahun terakhir, keberhasilan TMC dapat memperpanjang musim hujan 1 bulan , sehingga musim kemarau bisa diperpendek 1 bulan.

Raffles menambahkan satuan tugas, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan tim perusahaan perlu bergerak dalam satu sistem koordinasi. Pencegahan akan lebih efektif apabila patroli, kesiapan sumber air, dan pengamanan lokasi rawan dilakukan sebelum kebakaran muncul.

Ia juga mengingatkan bahwa titik panas atau hotspot merupakan indikasi awal, bukan secara otomatis titik api. Informasi satelit tersebut tetap harus diverifikasi melalui pengecekan lapangan dengan mendahulukan titik yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

“Hotspot merupakan alarm awal. Setelah terdeteksi, harus segera dilakukan ground check untuk memastikan apakah benar terdapat api sehingga respons yang diberikan tepat, cepat, dan sesuai dengan kondisi lapangan,” ujarnya. Prinsip ‘api kecil sebagai kawan, tapi kalau api besar maka menjadi lawan’ harus dipahami.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |