Pengamat: Papua Tak Cukup Dilihat dari Persoalan Politik Hari Ini

1 day ago 5

Selasa, 25 Agustus 2026 - 16:52 WIB

Jakarta, VIVA – Memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Ruang Suara Perempuan bersama Korps HMI-Wati (KOHATI) PB HMI menghadirkan kegiatan bertajuk “Indonesia Layak Dirayakan”. Sebuah ruang perjumpaan perempuan lintas suku, organisasi, komunitas, serta latar belakang untuk merayakan perjalanan Indonesia melalui seni, budaya, cerita, dan gagasan kebangsaan.

Mengusung tema “Indonesia Layak Dirayakan”, kegiatan ini membawa tiga gagasan utama: merayakan 81 tahun perjalanan dan daya tahan bangsa, mengapresiasi capaian pembangunan nasional, serta membangun optimisme dan kolaborasi untuk masa depan Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui kegiatan ini, penyelenggara ingin memperkuat persatuan perempuan lintas suku, menjadikan seni dan budaya sebagai medium kebangsaan, membuka ruang ekspresi bagi perempuan, membangun jejaring lintas komunitas, serta menegaskan peran aktif perempuan dalam kehidupan kebangsaan.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana, Indonesia memang belum sempurna, tetapi selalu ada yang layak dirayakan. Perbedaan adalah wajah Indonesia, dan dari keberagaman itulah lahir kekuatan bangsa.

Rangkaian kegiatan turut menghadirkan tokoh nasional perempuan. Salah satunya Stepi Anriani, Direktur Eksekutif Intelligence National Security Studies (INSS). Ia menyampaikan gagasan utama tentang Papua dan perjalanan sejarah Indonesia.

Stepy mengajak untuk melihat Papua dalam konteks sejarah yang utuh. Indonesia merdeka pada 1945, sementara Papua memiliki sejarah yang berbeda hingga akhirnya masuk dalam administrasi Indonesia pada awal 1960-an. 

Karena itu, Papua tidak cukup dilihat hanya dari persoalan politik hari ini, tetapi juga dari sejarah dan perjalanan masyarakatnya.

Tentang perempuan dan politik, Stepy menekankan perempuan tidak harus menjadi keras ketika berhadapan dengan laki-laki yang keras dalam urusan politik.

 “Perempuan boleh lembut, tetapi bukan berarti lemah. Kelembutan justru bisa menjadi kekuatan untuk menghadapi politik yang keras dengan cara yang lebih manusiawi," katanya.

 Pendidikan menjadi salah satu kunci utama bagi perempuan untuk memiliki kemandirian dan daya tawar. 

Semakin tinggi pendidikan seorang perempuan, semakin besar kemampuannya menentukan pilihan hidup dan membangung relasi yang setara. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukan tentang mengurasi akses laki-laki terhadap perempuan, tetapi tentang memastikan perempuan tidak dalam posisi yaang bergantung.

Stepi menegaskan bahwa teman-teman cipayung, organisasi kepemudaan dan Badan eksekutif mahassiswa untuk tidak menjadikan aksi demo sebagai respons refleks atas setiap isu yang muncul. 

Halaman Selanjutnya

Setiap sikap yang akan disuarakan harus melalui proses kajian yang matang, verifikasi data yang akurat dan diskusi yang mendalam.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |