VIVA – Perkembangan aplikasi digital membuat berbagai aktivitas menjadi semakin praktis. Namun, kemudahan yang sama juga dimanfaatkan pelaku penipuan untuk mencari korban. Modusnya kini tidak selalu berupa pesan mencurigakan atau telepon dari nomor asing, tetapi bisa melibatkan aplikasi yang terlihat meyakinkan.
Salah satu pola yang sedang mendapat perhatian adalah penyalahgunaan aplikasi dan layanan digital untuk menyamarkan malware sebagai aplikasi resmi. Pelaku dapat membuat aplikasi yang menyerupai layanan perbankan, pemerintah, keuangan, atau layanan populer lainnya untuk membujuk korban memasangnya di ponsel.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Laporan Reuters pada Agustus 2026, dikutip VIVA Selasa, 25 Agustus 2026, mengungkap bagaimana pelaku memanfaatkan layanan Google Firebase untuk mendistribusikan malware dan mengumpulkan data keuangan. Otoritas India bahkan meminta Google menonaktifkan sedikitnya 57 situs dan basis data yang ditemukan digunakan dalam pola tersebut sepanjang Agustus.
Aplikasi Palsu Bisa Menyamar sebagai Layanan Resmi
Modus ini bekerja dengan memanfaatkan kepercayaan korban.
Penipu terlebih dahulu membuat halaman atau aplikasi yang tampilannya menyerupai layanan resmi. Korban kemudian diarahkan untuk mengunduh aplikasi melalui tautan yang dikirim lewat pesan, media sosial, iklan, atau situs tertentu.
Dalam kasus yang ditemukan otoritas India, sejumlah aplikasi berbahaya menyamar sebagai layanan perbankan dan program pemerintah. Korban dibujuk menggunakan alasan seperti mendapatkan kartu kredit baru, menukarkan hadiah, meningkatkan limit kredit, atau mencairkan bantuan.
Begitu aplikasi terpasang, masalah sebenarnya dapat dimulai.
Aplikasi berbahaya tersebut dapat meminta akses terhadap informasi yang sebetulnya tidak diperlukan untuk menjalankan fungsi utamanya. Data yang dicuri kemudian dapat dikirim kepada pelaku untuk digunakan dalam tahap penipuan berikutnya.
Modus "Aplikasi Biasa" yang Berujung pada Pencurian Data
Google dalam laporan keamanan dan penipuan digitalnya pada Juni 2026 juga memperingatkan mengenai aplikasi berbahaya yang menyamar sebagai aplikasi keuangan pribadi.
Aplikasi semacam itu dapat meminta izin berlebihan, termasuk akses terhadap kontak, riwayat SMS, dan foto. Dalam sejumlah kasus, data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pemerasan terhadap korban.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Masalahnya, korban terkadang tidak menyadari bahwa izin yang diberikan terlalu luas.
Sebuah aplikasi pengelola keuangan, misalnya, seharusnya tidak otomatis membutuhkan akses ke seluruh kontak atau pesan SMS. Karena itu, permintaan izin menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan sebelum pengguna menekan tombol "Izinkan".
Halaman Selanjutnya
Penipu Tidak Selalu Memulai dari Aplikasi

1 day ago
1
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

