Jakarta, VIVA – Aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama pergerakan ekonomi domestik. Di tengah dinamika daya beli, momentum musiman, serta perubahan pola belanja, kinerja sektor ritel kerap menjadi indikator awal untuk membaca arah perekonomian dalam jangka pendek.
Bank Indonesia (BI) melalui Survei Penjualan Eceran terbaru memberikan gambaran awal mengenai kondisi tersebut pada awal 2026. Hasil survei menunjukkan sektor ritel diperkirakan masih berada dalam fase ekspansi secara tahunan, meski secara bulanan mengalami koreksi setelah periode libur panjang akhir tahun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Kinerja penjualan eceran diprakirakan meningkat pada Januari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diprakirakan tumbuh sebesar 7,9 persen (yoy)," tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Selasa, 10 Februari 2026.
Angka ini, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 3,5 persen (yoy). Pendorong utama berasal dari kelompok barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau.
Selain itu, kategori barang lainnya juga ikut menopang pertumbuhan. Namun, pola musiman terlihat pada pergerakan bulanan. Setelah lonjakan belanja saat Natal dan Tahun Baru, aktivitas ritel mengalami normalisasi pada Januari.
"Secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 diprakirakan mencatat kontraksi sebesar 0,6 persen (mtm)," sambung survei tersebut.
Penurunan secara bulanan ini dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Di sisi lain, tidak semua kelompok barang mengalami perbaikan.
Kelompok peralatan informasi dan komunikasi masih berada dalam fase kontraksi, mengindikasikan belanja barang elektronik belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini sering berkaitan dengan siklus penggantian perangkat yang lebih panjang serta sensitivitas terhadap harga.
Ke depan, prospek penjualan ritel diperkirakan kembali menguat. Responden survei memperkirakan peningkatan penjualan dalam tiga dan enam bulan mendatang, terutama didorong faktor musiman Ramadan dan Idulfitri yang biasanya meningkatkan konsumsi rumah tangga.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain penjualan, BI juga menyoroti arah harga. Tekanan inflasi jangka pendek diperkirakan meningkat, sejalan dengan naiknya permintaan musiman.
"Tekanan inflasi pada tiga bulan dan enam bulan yang akan datang, yaitu Maret dan Juni 2026 diprakirakan meningkat," tulis laporan tersebut. Peningkatan ini didorong oleh ekspektasi kenaikan harga pada periode HBKN Idulfitri 1447 H.
Halaman Selanjutnya
Secara keseluruhan, hasil survei menggambarkan konsumsi domestik masih terjaga. Pertumbuhan tahunan tetap positif, koreksi bulanan bersifat musiman, dan ekspektasi pelaku usaha menunjukkan optimisme menjelang periode hari besar keagamaan.

4 weeks ago
4










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

