Jakarta, VIVA – Ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai berdampak nyata pada perilaku konsumen. Di tengah situasi global yang belum stabil, masyarakat kini cenderung menahan pengeluaran dan lebih fokus pada kebutuhan pokok dibandingkan belanja non-esensial.
Perang di kawasan Teluk serta ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama. Meskipun sempat ada gencatan senjata selama dua minggu, peluang tercapainya perdamaian dinilai semakin kecil setelah perundingan yang berlangsung di Pakistan gagal membuahkan hasil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Analis menilai kondisi ini membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Mereka mulai mengalihkan anggaran ke kebutuhan utama dan mencari produk dengan nilai terbaik.
CEO Raymond Lifestyle, Satyaki Ghosh, mengungkapkan adanya perlambatan permintaan untuk produk non-esensial sejak pertengahan Maret. "Setelah pertengahan Maret, penyerapan produk diskresioner melambat," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Times of India, Senin, 13 April 2026.
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari kecenderungan memilih produk yang lebih terjangkau. CEO dan direktur penuh waktu Zydus Wellness, Tarun Arora, menyebut konsumen kini lebih selektif. Mereka tidak hanya mengurangi belanja, tetapi juga beralih ke produk dengan harga lebih rendah.
Hal serupa disampaikan CEO brand kecantikan D2C Plum, Shankar Prasad. "Orang-orang tidak selalu menurunkan kelas produk, meskipun ada pengetatan pengeluaran dengan rutinitas yang lebih sederhana dan lebih sedikit pembelian impulsif."
Dari sisi industri makanan, Chief Marketing Officer Parle Products, Mayank Shah, melihat adanya pergeseran signifikan dalam preferensi konsumen. "Yang kami lihat adalah pergeseran bertahap dalam preferensi konsumen menuju kategori esensial, dengan pengeluaran yang relatif lebih tinggi pada produk kebutuhan sehari-hari, sementara pembelian diskresioner dan yang bersifat kesenangan sedikit melemah, yang biasanya terjadi selama periode ketidakpastian."
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah akibat perang turut meningkatkan biaya produksi berbagai sektor. Tekanan inflasi mulai terasa, terutama pada industri yang bergantung pada energi dan bahan baku berbasis minyak.
Sejumlah perusahaan di sektor minyak goreng, air minum dalam kemasan, minuman, hingga barang elektronik telah menaikkan harga jual. Dampaknya, beban rumah tangga kelas menengah semakin berat.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, sektor tertentu juga menghadapi tantangan tambahan. Industri alas kaki, misalnya, diprediksi mengalami tekanan margin karena sekitar 30 persen bahan bakunya terkait harga minyak. Restoran cepat saji juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional, mulai dari energi hingga kemasan.

1 week ago
8



























