Perempuan Lebih Rentan Terserang Lupus, Begini Kata Dokter

2 weeks ago 12

Rabu, 27 Mei 2026 - 08:05 WIB

Jakarta, VIVA – Penyakit autoimun masih menjadi tantangan serius di dunia kesehatan, termasuk di Indonesia. Salah satu yang paling banyak menyerang perempuan adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat di dalam tubuh sendiri. Penyakit kronis ini dapat memengaruhi berbagai organ vital dan berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow menjelaskan bahwa lupus termasuk penyakit autoimun dengan gejala yang sangat beragam. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mulai dari kulit, sendi, ginjal, otak, hingga jantung dan paru-paru bisa menjadi sasarannya," kata dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR selaku Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi dalam acara World Lupus Day Media Conference oleh AstraZeneca di Jakarta Selatan, Selasa 26 Mei 2026.

Menurut dr. Sandra, mayoritas penderita lupus adalah perempuan, khususnya mereka yang berada pada rentang usia produktif 15 hingga 45 tahun. Data medis menunjukkan sekitar 90 persen pasien lupus merupakan wanita. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pengaruh hormon estrogen terhadap sistem imun tubuh, meski faktor genetik dan lingkungan juga turut berkontribusi meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tersebut.

Lupus sendiri kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya yang tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain. Banyak penderita mengalami kelelahan berkepanjangan, nyeri pada sendi, ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah, rambut rontok, demam tanpa sebab jelas, hingga sensitivitas tinggi terhadap paparan sinar matahari. Pada kondisi tertentu, lupus juga dapat menyerang ginjal dan menyebabkan pembengkakan pada kaki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra.

Indonesia sendiri mencatat sekitar 1,4 juta pasien lupus dengan tingkat kematian mencapai 8,1 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Sayangnya, masih banyak pasien yang baru mendapatkan diagnosis setelah terjadi kerusakan organ sehingga kondisi menjadi lebih sulit ditangani.

Halaman Selanjutnya

“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |