Jakarta, VIVA – PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik)memperkuat perannya dalam mendukung rantai pasok berpendingin (cold chain) nasional melalui layanan angkutan reefer berbasis kereta api. Hingga Mei 2026, KAI Logistik berhasil mengangkut sekitar 9.352 teus komoditas berpendingin, meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Vice President of Commercial KAI Logistik, Ferdian Pardosi menyampaikan bahwa pertumbuhan volume angkutan reefer menunjukkan semakin tingginya kepercayaan pelanggan terhadap moda kereta api. Khususnya sebagai solusi logistik cold chain yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melalui layanan reefer container, KAI Logistik mendukung distribusi berbagai komoditas yang memerlukan pengendalian suhu, mulai dari produk pangan segar dan olahan, hasil perikanan, hingga produk farmasi yang sensitif terhadap perubahan temperatur.
"Cold chain merupakan salah satu elemen penting dalam menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen. Pertumbuhan angkutan reefer yang kami catat hingga Mei 2026 menjadi indikator bahwa kebutuhan akan layanan logistik berpendingin terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan, perikanan, hingga farmasi di Indonesia," ujar Ferdian dikutip dari keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.
Dia menjabarkan, Sejalan dengan pertumbuhan kinerja angkutan reefer KAI Logistik, prospek industri cold chain nasional juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Indonesia Cold Chain Logistics Market diperkirakan tumbuh dari US$7,19 miliar pada 2025 menjadi US$7,51 miliar pada 2026, dan mencapai US$9,24 miliar pada 2031, dengan CAGR 4,23% sepanjang periode 2026–2031.
Proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan rantai pasok berpendingin di berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, perikanan, agribisnis, hingga farmasi. Kondisi ini membuka peluang bagi pengembangan layanan logistik berbasis kereta api yang mampu menghadirkan distribusi berpendingin yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.
Di sisi lain, pengembangan cold chain masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur cold storage di berbagai wilayah, biaya operasional yang relatif tinggi, kebutuhan pasokan energi yang stabil, hingga kompleksitas pengelolaan suhu selama proses distribusi. Sebagai negara tropis dan kepulauan, menjaga integritas suhu produk dari titik produksi hingga konsumen menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dalam rantai pasok.
Halaman Selanjutnya
Dalam konteks tersebut, moda kereta api menawarkan keunggulan berupa kapasitas angkut yang besar, jadwal operasional yang terukur, serta efisiensi distribusi jarak menengah hingga jauh. Pemanfaatan reefer container pada jaringan kereta api juga membantu menjaga stabilitas suhu produk selama perjalanan sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dibandingkan distribusi berbasis jalan raya.

2 weeks ago
2











