Minggu, 15 Maret 2026 - 14:18 WIB
VIVA – Sekitar 300 orang mengikuti pawai tahunan di Taipei pada Sabtu untuk memperingati Pemberontakan Tibet 1959. Penyelenggara kegiatan tersebut memperingatkan bahwa "perluasan kekuasaan otoriter Tiongkok tidak akan berhenti hanya di satu tempat."
Pawai digelar menjelang peringatan Hari Pemberontakan Tibet yang jatuh setiap 10 Maret. Hari tersebut memperingati peristiwa pada 1959 ketika sekitar 10.000 warga Tibet berkumpul di Lhasa untuk memprotes pengetatan kendali Beijing terhadap wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketua Yayasan Keagamaan Tibet Yang Mulia Dalai Lama, Kelsang Gyaltsen Bawa, mengatakan kisah Tibet merupakan pengingat penting bagi dunia, terutama bagi Taiwan.
"Kisah Tibet juga merupakan pengingat bagi dunia, terutama Taiwan," ujar Kelsang sebelum pawai dimulai.
Ia menambahkan bahwa ekspansi kekuasaan otoriter tidak berhenti di satu wilayah saja. Menurutnya, pengaruh Beijing telah menjangkau berbagai wilayah dan komunitas lain.
“Perluasan kekuasaan otoriter tidak akan berhenti hanya di satu tempat,” katanya. Ia menilai pengaruh Tiongkok telah menjangkau Uyghur Region, Mongolia Selatan, serta Hong Kong melalui apa yang ia sebut sebagai “penindasan transnasional, infiltrasi front persatuan, dan yurisdiksi jarak jauh.”
Menurut Kelsang, latar belakang tersebut membuat peringatan Hari Pemberontakan Tibet di Taiwan menjadi penting agar seruan dari negara pulau itu untuk membela martabat dan demokrasi rakyat Tibet dapat terdengar di seluruh dunia.
Pemberontakan pada 1959 akhirnya ditindas secara brutal. Peristiwa tersebut memaksa Dalai Lama pergi ke pengasingan di India, sementara sekitar 150.000 warga Tibet melarikan diri ke luar negeri, menurut data Jaringan Hak Asasi Manusia untuk Tibet dan Taiwan.
Sejak 2004, warga Tibet yang tinggal di Taiwan bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil secara rutin menggelar pawai di Taipei pada awal Maret untuk memperingati peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Taiwan, Yeh Ta-hua, yang turut mengikuti pawai mengatakan masyarakat Taiwan selama puluhan tahun telah menyaksikan bagaimana rakyat Tibet berupaya mempertahankan kebebasan mereka.
Menurut Yeh, selama 67 tahun terakhir warga Tibet terus “dengan berani melawan” apa yang ia sebut sebagai “kekuasaan brutal” otoritas Tiongkok, sambil mempertahankan kebebasan dan keyakinan mereka.
Halaman Selanjutnya
"Mendukung Tibet berarti mendukung demokrasi dan kebebasan Taiwan sendiri," kata Yeh. Ia menambahkan bahwa masyarakat Taiwan perlu berdiri bersama rakyat Tibet untuk “menjaga otonomi reinkarnasi agama dan melawan penindasan transnasional,” yang menjadi tema pawai tahun ini.

3 hours ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)



