Rupiah Melemah ke Rp 17.741, Harga Pangan Bakal Naik Imbas Tingginya Impor RI

1 hour ago 1

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:56 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.719 pada Selasa, 19 Mei 2026. Posisi rupiah itu melemah 53 poin dari kurs sebelumnya di level 17.666 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 20 Mei 2026 hingga pukul 09.08 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.741 per dolar AS. Posisi itu melemah 35 poin atau 0,20 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.706 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan, membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II-2026. 

Ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90 persen masih dipenuhi dari impor. Selain itu, bawang putih 95 persen impor, gula sekitar 60 persen, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen.

Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri.

Kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Transmisi pelemahan rupiah ke harga pangan konsumen berlangsung berbeda pada tiap komoditas. Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa hanya dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku. 

Kenaikan harga bahan baku langsung ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk di tingkat konsumen. Tekanan tersebut dinilai lebih cepat terasa pada produk olahan dibanding bahan baku mentah, karena terdapat efek berantai pada biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, dan logistik

Halaman Selanjutnya

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.700—Rp 17.750," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |