Jakarta, VIVA – Fenomena wisata belanja lintas negara kembali mencuri perhatian publik di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang melemah cukup tajam pada 2026 ini. Aktivitas turis asing, khususnya dari negara tetangga seperti Malaysia.
Masyarakat dari Negeri Jiran tersebut tampak semakin ramai berbelanja di Indonesia. Jakarta dan beberapa kota besar lain kini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat belanja murah bagi wisatawan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam sebuah unggahan konten kreator David Alfa Sunarna, fenomena ini dijelaskan dari sudut pandang keseharian wisatawan Malaysia yang datang ke Indonesia untuk berbelanja. Ia menyoroti bagaimana perbedaan kurs membuat Indonesia terasa jauh lebih murah bagi warga negara tetangga tersebut.
“Turis Malaysia sekarang lagi ramai menyerbu Indonesia, datang ke Jakarta, borong semua barang Indonesia. Murah soalnya menurut mereka,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Instagram, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia juga menggambarkan perbedaan daya beli yang cukup signifikan ketika dikonversikan ke mata uang rupiah. “Bayangin, 500 ringgit itu 2,2 juta loh,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai tersebut memberikan ruang konsumsi yang lebih besar bagi wisatawan Malaysia saat berada di Indonesia, dibandingkan jika mereka menggunakan uang yang sama di dalam negeri sendiri.
“Di Malaysia, 500 ringgit itu cuma buat makan sama jajan dikit,” sambungnya.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi nilai tukar rupiah yang sedang tertekan terhadap beberapa mata uang utama kawasan. Pada akhir Mei 2026, rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah dalam sejarahnya terhadap ringgit Malaysia.
Saat itu, 1 ringgit tercatat berada di kisaran Rp4.500, sementara dalam perkembangan terbaru telah bergerak di sekitar Rp4.495 per ringgit. Di sisi lain, rupiah juga tengah menembus level Rp18.000 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi ini kemudian membuat Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan Malaysia, terutama untuk sektor ritel, kuliner, hingga oleh-oleh. Hal ini juga diakui dalam penjelasan konten tersebut yang menyinggung faktor utama di balik fenomena wisata belanja ini.
Dari sisi ekonomi, pelemahan rupiah memang dapat memberikan dampak ganda. Di satu sisi, sektor pariwisata berpotensi mendapatkan keuntungan karena meningkatnya minat wisatawan asing yang merasa mendapatkan nilai tukar lebih menguntungkan. Hotel, transportasi, hingga pusat perbelanjaan bisa merasakan peningkatan transaksi dari wisatawan regional.
Halaman Selanjutnya
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga membawa tekanan pada masyarakat domestik. Barang-barang impor menjadi lebih mahal, mulai dari elektronik, bahan baku industri, hingga kebutuhan farmasi. Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri juga meningkat karena harus dikonversi dengan nilai tukar yang lebih tinggi.

1 week ago
7














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)