Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.976 pada Senin, 20 Juli 2026. Posisi rupiah itu melemah 32 poin dari kurs sebelumnya di level 17.944 pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 21 Juli 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.938 per dolar AS. Posisi itu menguat 10 poin atau 0,06 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.948 per dolar AS.
Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
- Pixabay/IqbalStock
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga, diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy)," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 21 Juli 2026.
Meski realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), namun kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik.
Walaupun realisasi investasi pada kuartal II-2026 itu menjadi sinyal positif dan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global, namun kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.
Pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5 persen (yoy). Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menyusut 7,8 persen (yoy) dan menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi, karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.
Karenanya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi, dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Misalnya di sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, hingga ekonomi digital memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.

3 weeks ago
9
















