Sektor Manufaktur RI Anjlok Signifikan di Akhir Semester I-2026, S&P Global Soroti PHK & Inflasi

2 weeks ago 13

Rabu, 1 Juli 2026 - 14:38 WIB

Jakarta, VIVA – S&P Global merilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia pada Juni 2026, yang berada di level 46,9 atau turun dari posisi 50,0 pada bulan Mei 2026 lalu.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti menjelaskan, penurunan yang menggambarkan terkontraksinya sektor manufaktur Indonesia itu, dipicu oleh anjloknya permintaan atas barang manufaktur Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menyampaikan bahwa berdasarkan data tersebut, teecata bahwa pesanan baru menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, dengan laju tercepat dalam setahun.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir, menutup semester I-2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun," kata Bhatti dalam keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026

Ilustrasi Industri manufaktur.

Photo :

  • Dokumentasi PT Grand Kartech Tbk.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa para pelaku industri mengaitkan kondisi sektor manufaktur Indonesia itu, dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan harga. Dimana, penurunan permintaan domestik juga diikuti oleh melemahnya pesanan ekspor.

"Bukti anekdotal mengarah pada penurunan permintaan dari pasar luar negeri karena kenaikan harga. Penurunan permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Agustus 2021," ujarnya.

Lesunya permintaan membuat perusahaan mengurangi produksi selama empat bulan berturut-turut, dan menjadi yang paling tajam sejak April 2025. Kondisi tersebut turut berdampak pada pasar tenaga kerja.

"Laju PHK tergolong solid dan merupakan yang paling besar sejak September 2021. Pada saat yang sama, pembelian input turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak Agustus 2021," kata Bhatti.

Sementara di sisi lain, tekanan biaya justru semakin meningkat. Inflasi harga input pada Juni 2026 tercatat sebagai yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei, sejak dimulai pada April 2011. Kenaikan biaya terutama dipicu oleh mahalnya harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akibatnya, produsen menaikkan harga jual produknya dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun, atau sejak September 2013. Tekanan harga itu juga menyebabkan gangguan rantai pasok, yang ditandai dengan waktu pengiriman pemasok yang kembali memanjang selama sembilan bulan berturut-turut.

"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran. Sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," ujar Bhatti.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, prospek industri untuk 12 bulan ke depan dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena mereka berharap tekanan harga mulai mereda sehingga dapat mendorong penjualan dan pertumbuhan output pada periode mendatang.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |