Senin, 2 Maret 2026 - 14:22 WIB
Iran, VIVA – Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dipastikan masih hidup meski sebelumnya sempat beredar kabar bahwa dirinya tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Minggu, 1 Maret 2026. Konfirmasi bahwa Ahmadinejad masih hidup disampaikan langsung oleh ajudan dekatnya kepada media Turki, Anadolu.
“Saya masih berkomunikasi dengan beliau. Semuanya dalam kondisi baik,” ujar penasihat tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan dikutip Senin 2 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia juga menyebutkan bahwa serangan gabungan AS dan Israel pada Minggu kemarin menghantam bangunan tempat tim pengamanan Ahmadinejad. Namun dia memastikan bahwa mantan presiden Iran itu masih hidup.
“Sebuah bangunan yang berkaitan dengan tim pengamanan beliau terkena serangan kemarin. Tiga pengawalnya anggota IRGC (Korps Garda Revolusi Islam) tewas. Sementara itu, rumah pribadi beliau yang berjarak sekitar 100 meter dari bangunan tersebut tidak terdampak dan tidak menjadi sasaran serangan,” kata dia.
Tak hanya itu ajudan pribadinya saja Partai Dolate Bahar yang merupakan partai tempat Ahmadinejad bernaung juga menepis kabar tersebut. Dalam pernyataan resmi mereka seperti dilansir dari media Jerman, DPA menyebut bahwa kabar kematian Ahmadinejad adalah palsu.
“Dolate Bahar dengan ini mengumumkan bahwa laporan tentang gugurnya Dr. Ahmadinejad dalam serangan Amerika-Israel adalah palsu,” bunyi pernyataan tersebut.
Sebelumnya, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Mahmoud Ahamdinejad dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Minggu 1 Maret kemarin.
Laporan menyebutkan bahwa pria berusia 69 tahun itu meninggal dunia di kawasan Narmak, Teheran timur, setelah wilayah tersebut beberapa kali digempur pada hari pertama serangan. Serangan itu juga dikabarkan menewaskan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, demikian seperti melansir laman The Telegraph, Senin 2 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ahmadinejad, yang dikenal sebagai pemimpin populis, menjalani dua periode pemerintahan penuh gejolak dari 2005 hingga 2013. Pada masa itu, Iran terpuruk akibat sanksi Barat.
Ia juga memimpin penindasan keras terhadap demonstrasi Gerakan Hijau pada 2009 dan membawa Iran ke dalam ketegangan berkepanjangan dengan Barat terkait program nuklirnya. Ia pernah menyebut sanksi Amerika Serikat sebagai “kertas tak berharga”, meskipun dampaknya sangat membebani rakyat Iran.
Halaman Selanjutnya
Setelah tidak lagi menjabat, Ahmadinejad mulai mengambil jarak dari sistem yang sebelumnya ia dukung. Ia kerap mengkritik praktik korupsi, menyerukan pembebasan tahanan politik, serta mempertanyakan legitimasi struktur kekuasaan di Iran.

1 week ago
13












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)