Setelah Menonton Dear You: Saya Tidak Menyesal Menjadi Tionghoa

6 hours ago 3

loading...

Harryanto Aryodiguno, Associate Professor of International Relations, President University. Foto/Dok. SindoNews

Harryanto Aryodiguno
Associate Professor of International Relations, President University

PADA 22 Juni 2026, saya menulis sebuah artikel dalam bahasa Mandarin di Harian Guoji Ribao dengan judul “《給阿嬤的情書》真的是政治宣傳嗎?從印尼華人的離散認同之辯” atau “Apakah Surat Cinta untuk Nenek Benar-Benar Propaganda Politik? Membicarakan Identitas Diaspora dari Pengalaman Tionghoa Indonesia”. Dua hari kemudian, pada 24 Juni 2026, gagasan serupa saya sampaikan kepada pembaca Indonesia melalui artikel berjudul “Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah” yang diterbitkan SINDOnews.

Ketika menulis kedua artikel tersebut, saya belum menonton film Dear You. Film itu baru mulai diputar di Indonesia pada 7 Agustus 2026, hampir dua bulan setelah tulisan saya diterbitkan. Pada saat itu, perhatian saya masih tertuju pada perdebatan politik yang mengelilingi film tersebut.

Sebagian pengamat menuduh Dear You sebagai instrumen propaganda lunak Beijing. Film itu dianggap berusaha membangkitkan kembali hubungan emosional antara masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara dan tanah leluhur mereka di China. Kedekatan budaya tersebut kemudian dikhawatirkan dapat berkembang menjadi loyalitas politik.

Sebagai akademisi yang mempelajari politik, identitas, dan hubungan internasional, saya memandang anggapan tersebut terlalu menyederhanakan cara identitas manusia terbentuk. Sebuah film memang dapat membangkitkan ingatan, emosi, dan rasa ingin tahu terhadap sejarah keluarga. Namun, sebuah film tidak serta-merta mampu mengubah kesetiaan politik seseorang.

Identitas diaspora tidak hanya dibentuk oleh darah, bahasa, film, atau kenangan tentang negeri leluhur. Ia juga dibentuk oleh pengalaman hidup sehari-hari, perlakuan negara, penerimaan masyarakat, serta perasaan diakui sebagai bagian yang setara dari sebuah bangsa.

Itulah argumen saya sebelum menonton film tersebut. Namun, setelah akhirnya menyaksikan Dear You, saya menyadari bahwa selama ini saya mungkin terlalu sibuk memperdebatkan politik di sekitar film itu sehingga belum sepenuhnya memahami jiwa yang terdapat di dalamnya.

Bukan Lagi tentang Propaganda
Kali ini saya tidak ingin membahas apakah Dear You merupakan propaganda politik, instrumen soft power, atau bagian dari perebutan pengaruh geopolitik. Saya juga tidak ingin membicarakan hubungan antara Tiongkok dan diaspora Tionghoa dari sudut pandang kepentingan negara.

Saya ingin membicarakan film ini sebagai seorang manusia, seorang Tionghoa Indonesia, dan seorang anak dari sebuah peradaban panjang yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Bagi saya, Dear You bukanlah film tentang bagaimana sebuah negara memanggil kembali diasporanya. Film ini adalah kisah tentang manusia yang berusaha mempertahankan cinta, kepercayaan, tanggung jawab, dan hubungan keluarga di tengah perpisahan yang sangat panjang.

Surat-surat dan kiriman uang yang menghubungkan para perantau di Asia Tenggara dengan keluarga mereka di Chaoshan bukan sekadar alat komunikasi atau transaksi ekonomi. Di dalam setiap surat terdapat kerinduan. Di balik setiap kiriman uang terdapat kerja keras, pengorbanan, dan tanggung jawab kepada keluarga yang ditinggalkan.

Pada masa itu, sebuah surat membutuhkan waktu sangat lama untuk mencapai tujuan. Tidak ada telepon genggam, pesan instan, atau panggilan video. Tidak ada kepastian bahwa orang yang ditunggu akan kembali. Namun, jarak dan ketidakpastian tidak selalu mematikan kesetiaan. Justru di situlah film ini menyentuh hati saya.

Ketika Cinta Tidak Berarti Memiliki
Dear You memperlihatkan suatu bentuk cinta yang mungkin semakin sulit kita temukan sekarang: cinta yang tidak selalu menuntut kepemilikan dan tidak terus-menerus meminta pembuktian.

Ada orang yang mencintai dengan cara menunggu. Ada yang mencintai dengan menjaga sebuah janji. Ada pula yang memilih berkorban dan menyimpan penderitaannya sendiri agar orang yang dicintainya dapat melanjutkan kehidupan.

Cinta seperti ini terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat luhur. Ia tidak diukur dari seberapa banyak seseorang menerima, melainkan dari seberapa jauh ia bersedia menjaga kebaikan orang lain.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |