VIVA – Konten horor identik dengan cerita mistis, dunia paranormal, hingga sosok yang disebut memiliki kemampuan indigo. Namun, sosok di balik kanal RJL 5, Fajar Aditya, memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengemas cerita-cerita horor.
Tak sekadar menghadirkan kisah menyeramkan untuk menarik perhatian penonton, Fajar berusaha melihat pengalaman horor sebagai bagian dari fenomena sosial dan budaya masyarakat. Menariknya, konten kreator yang dikenal sebagai Founder RJL 5 ini ternyata juga memiliki latar belakang akademik yang mentereng.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fajar Aditya baru saja menyelesaikan pendidikan S2 Antropologi di Universitas Indonesia (UI). Ia lulus dengan predikat cumlaude dan meraih IPK 3,89. Kelulusannya itu semakin memperlihatkan sisi lain Fajar yang selama ini dikenal publik melalui konten horor dan berbagai kisah yang jarang terungkap.
Siapa Fajar RJL 5?
Fajar Aditya merupakan sosok di balik RJL 5, kanal yang dikenal luas oleh penggemar konten horor di Indonesia. Dalam perjalanan kariernya sebagai kreator, Fajar banyak mengangkat kisah horor, budaya, hingga berbagai untold story yang disampaikan langsung oleh para narasumber.
Sebelum menempuh pendidikan magister, Fajar diketahui menyelesaikan pendidikan S1 Administrasi Negara di Universitas Indonesia. Ketertarikannya terhadap budaya dan kehidupan sosial kemudian membawanya melanjutkan studi S2 di bidang Antropologi di kampus yang sama.
Selain aktif sebagai kreator konten, Fajar juga memiliki ketertarikan pada dunia budaya, mitos, dan penulisan. Ia bahkan merupakan penulis novel Hilang Dalam Dekapan Semeru yang berhasil menjadi best seller.
Latar belakang akademiknya tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan pendekatan Fajar dalam membahas cerita horor. Meski kerap mendapat anggapan sebagai paranormal, dukun, atau sosok yang berkaitan dengan dunia klenik, Fajar justru menegaskan bahwa dirinya melihat pengalaman horor dari sudut pandang budaya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Banyak yang berpikir kalau orang yang membahas horor harus paranormal, dukun, klenik, atau indigo. Padahal tidak harus begitu. Pengalaman horor bisa kita lihat sebagai sebuah fenomena kepercayaan dalam budaya masyarakat,” ujar Fajar Aditya, Founder RJL 5.
Dalam mengembangkan RJL 5, Fajar tidak ingin kanal tersebut hanya menjadi tempat untuk menyajikan hiburan semata. Ia berusaha menghadirkan cerita dari narasumber berdasarkan pengalaman yang mereka sampaikan, bukan membuat skenario yang kemudian dikemas seolah-olah sebagai kejadian nyata.
Halaman Selanjutnya
Dari cerita horor yang muncul, Fajar melihat adanya peluang untuk membahas lapisan yang lebih luas. Sebuah kisah mistis, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kepercayaan masyarakat di suatu daerah.

7 hours ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

