Jakarta, VIVA – Penurunan perekrutan pekerja level entry atau fresh graduate dalam beberapa tahun terakhir disebut lebih dipengaruhi sistem kerja work from home (WFH) dibanding perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Hal itu terungkap dalam penelitian yang dilakukan Peter John Lambert dari London School of Economics dan Yannick Schindler dari Ellison Institute of Technology.
Penelitian tersebut menganalisis data Revelio Labs yang mencakup 243 juta perekrutan baru serta 407 juta lowongan kerja dari Lightcast di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia sepanjang 2017 hingga 2025.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hasil penelitian menunjukkan paparan sistem kerja remote menjadi faktor yang lebih kuat dalam memprediksi penurunan perekrutan pekerja awal karier dibanding AI generatif. “Temuan kami dengan kuat menunjukkan bahwa paparan work from home lebih tepat menjadi prediktor penurunan perekrutan pekerja awal karier,” tulis peneliti, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Kamis, 28 Mei 2026.
Selama ini, perlambatan perekrutan pekerja junior banyak dikaitkan dengan perkembangan AI. CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan sempat memperingatkan bahwa AI dapat menghapus separuh pekerjaan white collar level entry.
CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, juga mengaku mulai melihat perlambatan perekrutan untuk posisi junior dan internship. Namun penelitian tersebut menyebut pekerjaan yang paling terdampak AI umumnya juga merupakan pekerjaan yang paling mudah dilakukan secara remote, seperti software developer, konsultan, akuntan, dan data scientist.
Saat dampak AI dan work from home dianalisis secara terpisah, keduanya terlihat berkaitan dengan melemahnya perekrutan pekerja junior. Namun ketika dua faktor itu diuji secara bersamaan, dampak AI disebut melemah signifikan.
“Pengaruh AI melemah sangat besar dan sering kali secara statistik hampir tidak bisa dibedakan dari nol,” tulis laporan tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebaliknya, pengaruh sistem kerja remote tetap konsisten terhadap penurunan perekrutan pekerja level awal. Peneliti menilai sistem kerja jarak jauh membuat proses pengawasan dan pelatihan pekerja baru menjadi lebih sulit.
“WFH terbukti meningkatkan biaya pengawasan dan pemantauan pekerja, serta dapat memperlambat proses pembelajaran saat bekerja,” tulis peneliti. “Hambatan organisasi ini dapat mengurangi nilai investasi perusahaan terhadap talenta awal karier.”
Halaman Selanjutnya
Penelitian itu juga menemukan bahwa perekrutan pekerja entry level turun tajam setelah 2022 di seluruh negara yang dianalisis. Di Amerika Serikat, perekrutan pekerja junior tercatat turun 29 persen dibanding sebelum pandemi COVID-19.

2 weeks ago
14














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)