Soroti Kebijakan BI, Ekonom Sarankan 4 Taktik Ala Brazil Demi Selamatkan Rupiah

5 days ago 12

Senin, 8 Juni 2026 - 14:44 WIB

Jakarta, VIVA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan dinilai belum memberikan dampak optimal bagi penguatan nilai tukar rupiah

Alih-alih menstabilkan mata uang, langkah tersebut justru dinilai menjadi salah satu pemicu keluarnya modal asing dari pasar domestik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ekonom Gede Sandra menilai bahwa situasi moneter yang dihadapi Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan dinamika ekonomi yang dialami Brazil pada tahun 2002 silam. 

"Ini hal yang sebenarnya bisa dihindari bila Bank Sentral itu lebih tepat responsnya. Tapi ini malah seperti memperburuk,” ucap Gede Sandra, dikutip Senin, 8 Juni 2026.

Merujuk pada penelitian ekonom Olivier Blanchard (2004), Gede menjelaskan bahwa Brazil pernah mengambil langkah serupa dengan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Namun, kebijakan tersebut justru direspons negatif oleh pasar, memicu kepanikan investor, keluarnya modal asing, dan depresiasi mata uang. 

"Harapannya mata uang menguat (apresiasi), dia malah melemah. Dan masalahnya, pengalaman di Brazil ini tidak menjadi pelajaran bagi otoritas moneter di Bank Indonesia," tutur Gede.

Kekhawatiran pasar, menurut Gede, turut diperberat oleh rasio utang Indonesia yang kini berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang mulai mendekati posisi Brazil saat itu (50-60 persen). Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) surat utang Indonesia juga mengalami kenaikan hingga menyentuh level 7 persen.

"Pada saat otoritas Bank Sentral menaikkan suku bunga moneter, ternyata suku bunga surat utang juga ikut naik. Takutlah ini investor-investor melihat, wah bagaimana kalau nanti terjadi default atau gagal bayar?" paparnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, Gede menyoroti adanya ketidakselarasan antara kebijakan moneter BI dengan kinerja fiskal pemerintah yang sejauh ini menunjukkan hasil positif. Mengacu pada data per April, kinerja keuangan negara terbilang impresif dengan penerimaan mencapai Rp918 triliun dan belanja Rp1.024 triliun, sehingga defisit terjaga di angka 0,64 persen. 

Selain itu, keseimbangan primer berhasil mencatatkan surplus setelah sempat negatif di kuartal pertama, sejalan dengan tren neraca perdagangan yang terus positif. Namun, capaian di sektor riil dan fiskal ini dinilai tidak sejalan dengan arah kebijakan moneter.

Halaman Selanjutnya

"Kita melihat ada seperti kebijakan fiskal ini dinegasikan. Dibatalkan oleh otoritas moneter. Harusnya bareng-bareng kesana, moneternya kok kayak mau negasikan," ucap Gede Sandra.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |