VIVA – Kerusuhan suporter kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Aksi turun ke lapangan, penyalaan flare, hingga perusakan fasilitas stadion terus berulang dalam beberapa musim terakhir dan berujung pada hukuman berat dari Komdis PSSI.
Namun di tengah rentetan sanksi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah hukuman yang selama ini diberikan benar-benar efektif untuk menciptakan efek jera?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pengamat sepak bola Indonesia, Doni Setiabudi, menilai sanksi yang dijatuhkan sebenarnya sudah cukup berat dan sangat merugikan klub. Hanya saja, perilaku oknum suporter masih terus berulang sehingga dibutuhkan langkah yang lebih tegas dan modern dalam pengelolaan pertandingan.
“Kalau saya berkaca dari beberapa pertandingan terakhir yang memang sering terjadi kerusuhan atau suporter masuk ke lapangan, sebenarnya hukuman itu cukup terasa. Contohnya Persib Bandung yang kena denda AFC sampai Rp3,5 miliar dan larangan didampingi penonton beberapa pertandingan. Itu jelas berat dan sangat merugikan klub,” ujar Doni.
Fenomena ini memang bukan sekadar persoalan moral. Dampaknya juga menghantam kondisi finansial klub. Persela Lamongan misalnya, pernah dijatuhi hukuman bermain tanpa penonton selama satu musim akibat kerusuhan suporter. Sanksi tersebut membuat klub kehilangan pemasukan pertandingan dan berdampak pada stabilitas keuangan hingga sejumlah investor memilih mundur.
Kasus serupa juga dialami Persipura Jayapura. Klub berjuluk Mutiara Hitam itu harus menjalani hukuman tanpa penonton selama satu musim yang membuat biaya operasional meningkat, sementara pemasukan dari tiket dan dukungan suporter hilang total.
Belum selesai sampai di situ, insiden terbaru kembali terjadi saat laga PSM Makassar kontra Persib Bandung. Ulah oknum yang masuk ke lapangan membuat klub kembali berada dalam ancaman sanksi tambahan.
Menurut Doni, efektivitas hukuman harus dibarengi konsistensi penegakan aturan dari Komdis PSSI.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kalau regulasinya mengatakan pelanggaran tertentu hukumannya sekian, ya harus diterapkan seperti itu. Jangan sampai sanksi muncul berdasarkan persepsi atau suka tidak suka terhadap klub tertentu,” katanya.
Pria yang akrab disapa Kang Jalu itu juga menyoroti budaya suporter di Indonesia yang dinilai masih belum siap menerima kekalahan. Padahal dalam sepak bola hanya ada tiga hasil: menang, kalah, atau seri.
Halaman Selanjutnya
“Budaya menerima kekalahan suporter Indonesia masih rendah. Makanya edukasi kepada suporter itu penting,” ucap Doni.

3 weeks ago
7














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)