loading...
Jepang menjadi salah satu korban terparah, setelah ketergantungan utamanya pada pasokan minyak mentah Teluk terganggu. Foto/Dok
JAKARTA - Perubahan peta jalur pelayaran logistik global imbas perang Amerika Serikat (AS) versus Iran berdampak fatal bagi para importir minyak di Asia dan Eropa. Laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat tagihan impor energi global membengkak hingga USD330 miliar atau setara Rp5.784 triliun (kurs Rp17.528 per USD) dalam kurun enam bulan terakhir (Maret–Agustus 2026) akibat lonjakan harga migas.
Negara-negara importir energi Asia merupakan klien terbesar produsen minyak dan gas dari Timur Tengah karena geografinya yang menguntungkan sehingga harganya juga lebih bersahabat. Kini para importir terpaksa mencari alternatif lain, yang membuat mereka harus membayar harga yang lebih tinggi.
Kondisi geografi sebagian besar negara membuat jalur alternatif menjadi kurang menguntungkan, dimana kapal tanker butuh waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan. Jepang menjadi salah satu korban terparah.
Baca Juga:
Peta Minyak Dunia Dirombak Total! Jalur Utama Lumpuh, Negara Importir Menanggung Beban MahalDapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

































