Tangis Ibu di Misa Pemakaman, Bongkar Curhatan dr. Icha: Mama, Saya Diintimidasi...

2 weeks ago 11

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:23 WIB

Kupang, VIVA – Suasana haru menyelimuti misa pemakaman dr. Eliza Princila Utami Pakaenomi atau yang akrab disapa dr. Icha, di Perumahan RSS Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, NTT, Senin, 29 Juni 2026 siang. 

Di tengah isak yang tak tertahan, sang ibunda, Nur Azizah, membagikan kisah pilu tentang hari-hari terakhir putri sulungnya sebelum jenazah dihantar ke peristirahatan terakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nur, yang sehari-hari menjabat Kepala Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi NTT, mengenang percakapan teleponnya dengan dr. Icha pada malam 13 Juni 2026 malam ketika suara anaknya bergetar oleh ketakutan.

Ditunjuk-tunjuk di Depan Pasien

Menurut penuturan Nur, dr. Icha menerima intimidasi verbal dari tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU): Therensius Lazakar (Golkar), Norbertus Tubani (PKB), dan Veronika Lake (PDI Perjuangan). Ketiganya datang ke UGD RS Leona Kefamenanu untuk mengecek penanganan pasien anak korban gigitan ular berbisa  yang merupakan keponakan Norbertus Tubani.

Di tengah ketegangan itu, para anggota dewan disebut menunjuk-nunjuk wajah dr. Icha sembari mengancam akan mencabut izin praktiknya dan membekukan izin operasional rumah sakit, hanya karena dr. Icha bersikukuh menjalankan SOP penanganan gigitan ular berbisa yang telah berlaku secara umum, SOP yang bahkan telah ia konsultasikan langsung dengan satu-satunya ahli toksikologi ular di Indonesia, dr. Tri Maharani.

"Mama, ini saya sedang diintimidasi oleh anggota dewan. Saya sudah bekerja sesuai SOP, saya paham betul SOP itu, bahkan saya konsultasi langsung dengan dokter ahli bisa ular satu-satunya di Indonesia. Tapi mereka bilang SOP itu tidak boleh dipegang sembarang orang padahal yang berhak menjalankan teknis pelayanan kesehatan adalah tenaga kesehatan, bukan mereka yang berkuasa," ujar Nur, menirukan isi curahan hati anaknya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dibentak di depan banyak pasien membuat dr. Icha merasa harga dirinya sebagai tenaga medis diinjak.

"Dari tangisannya saya coba menenangkan, tapi dia merasa saya tidak mampu lagi membantu. Dia bilang, 'Mama, saya tidak kuat di depan begitu banyak pasien. Saat ini juga mereka bisa hentikan praktik saya,'" kenang Nur sambil menahan tangis.

Halaman Selanjutnya

Ketakutan itu terus membayangi dr. Icha. Ancaman bahwa izin operasional rumah sakit bisa dibekukan kapan saja menjadi beban yang tak kunjung lepas dari pikirannya. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |