VIVA – Tepat 28 tahun lalu, 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, Indonesia memasuki salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan bangsa. Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, resmi mengumumkan pengunduran dirinya setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun.
Pidato singkat yang disampaikan di Istana Merdeka, Jakarta, itu menjadi penanda berakhirnya era Orde Baru sekaligus lahirnya babak baru demokrasi Indonesia melalui Reformasi 1998.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Suasana ibu kota pagi itu berada dalam ketegangan tinggi. Jalan-jalan utama Jakarta masih dijaga ketat aparat keamanan. Tank dan kendaraan militer masih bersiaga di sejumlah titik strategis setelah gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan besar mengguncang Indonesia dalam beberapa hari sebelumnya.
Namun, runtuhnya kekuasaan Soeharto sebenarnya bukan terjadi dalam semalam. Krisis moneter (Krismon) Asia yang mulai menghantam pada 1997 menjadi titik awal guncangan besar terhadap pemerintahan Orde Baru. Nilai tukar rupiah anjlok tajam, harga kebutuhan pokok melonjak, perusahaan bangkrut, PHK massal terjadi di berbagai daerah, dan tingkat kemiskinan meningkat drastis.
Situasi ekonomi yang memburuk membuat kemarahan masyarakat semakin besar. Rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan yang selama puluhan tahun dikenal kuat dan stabil.
Pada 15 Januari 1998, Soeharto bahkan menandatangani Letter of Intent dengan IMF sebagai upaya menyelamatkan ekonomi Indonesia. Namun kondisi justru semakin memburuk. Nilai rupiah terus melemah hingga menembus lebih dari Rp10.000 per dolar AS.
Mahasiswa Tuntut Reformasi
Di tengah kondisi tersebut, gelombang demonstrasi mahasiswa mulai muncul di berbagai kota. Mahasiswa menuntut reformasi total terhadap pemerintahan Orde Baru yang dianggap sarat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme atau KKN. Mereka juga menyoroti sistem politik yang dianggap tidak demokratis, termasuk praktik Dwifungsi ABRI yang memberi peran besar militer dalam pemerintahan dan politik nasional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski gelombang protes semakin besar, Soeharto tetap maju dalam Sidang Umum MPR 1998 dan kembali terpilih menjadi Presiden RI untuk ketujuh kalinya pada 11 Maret 1998.
Keputusan tersebut justru memicu kemarahan publik semakin meluas. Demonstrasi mahasiswa terus terjadi di berbagai kampus di Indonesia. Situasi semakin panas setelah pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik pada awal Mei 1998 di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sudah terpuruk.
Halaman Selanjutnya
Puncak Ketegangan Terjadi 12 Mei 1998

3 weeks ago
9














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)